Berita ~ Berita Litbang

YUK, TENGOK JURUS JITU MENANAM ROTAN JERNANG

Selasa, 12 Mei 2020 | 35

YUK, TENGOK JURUS JITU MENANAM ROTAN JERNANG

BP2LHK Palembang__Minat masyarakat untuk menanam rotan jernang semakin meninggi karena harga jual resinnya juga semakin menjanjikan. Meski begitu, masih banyak yang belum paham, untuk mendapatkan bibitnya perlu usaha lumayan keras, lantaran sumber benihnya di alam semakin langka dan harga bibit yang dijual di pasaran pun sudah melambung tinggi.

“Bila mendapatkan pohonnya di alam pun susah, sudah pasti kedepannya produksi resin jernang akan menurun. Padahal Indonesia saat ini pengekspor resin jernang terbesar di dunia, dengan rata-rata 400 sampai 500 ton per tahun”, ujar Sahwalita, peneliti Balai Litbang LHK Palembang.

Sahwalita menambahkan bahwa sampai saat ini, pemanfaatan rotan jernang di alam masih bersifat open access dimana masyarakat menggangap rotan jernang yang tumbuh di alam sebagai barang milik masyarakat, yang bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Sistem ini membuat pemanenan rotan jernang menjadi tidak lestari dan tanpa aturan, karena terkadang untuk memanennya, mereka merontokkan semua buah yang ada di pohon, tidak peduli buah masak atau buah muda, dan terkadang juga menebang pohonnya untuk diambil umbutnya. “Teknik pemanenan seperti ini akan menyebabkan produksi buah menurun, bahkan dapat menyebabkan kematian pada pohonnya yang akan berimbas pada susahnya mencari benih”, ucapnya.

Upaya pelestarian terus dilakukan antara lain dengan mengajak masyarakat untuk menanam sendiri. Namun, sulitnya mendapatkan buah yang masak untuk dijadikan benih menjadi kendala utama dalam regenerasi rotan jernang. Biasanya, buah masak ini hanya dapat diperoleh dari penjernang yang masuk ke dalam hutan dan pohonnya belum pernah dipanen sebelumnya. Tetapi, jumlahnya pun sangat terbatas dan lokasinya juga cukup jauh dari pemukiman.

Keterbatasan benih ini juga yang akhirnya membuat masyarakat memanfaatkan anakan rotan jernang yang ada di alam. Masalahnya, anakan rotan jernang ini hanya bisa ditemukan jika lingkungannya mendukung untuk terjadinya perkecambahan dan tumbuhnya anakan, yaitu pada daerah-daerah yang memiliki cukup cahaya matahari yang masuk sampai ke lantai hutan.  Namun, bila anakan ini tidak segera dipindahkan, anakan ini juga akan mati karena seleksi alam. Karena itu, sedikit sekali penjernang yang bisa memanfaatkan anakan tersebut.

Menyiasati perkecambahan benih rotan jernang ini, Sahwalita memberikan beberapa tips bagaimana cara penanganan buah dan perkecambahan benih rotan jernang agar dapat  menghasilkan daya berkecambah yang tinggi dengan kualitas yang baik dan seragam.

“Yang terpenting dalam penanaman jernang ini adalah materi pembibitannya harus lah yang telah masak secara fisiologis, ditandai dengan warna kulit buah yang telah berubah dari hijau menjadi hijau kekuningan sampai berwarna kuning ”, jelasnya.

Dalam tahap seleksi dan sortasi buah ini, buah yang dipilih hendaknya bukan hanya yang telah masak secara fisiologis, namun juga yang masih segar dan memiliki ukuran sedang sampai besar atau yang memiliki diameter diatas 15 mm.

Tahap kedua adalah ekstraksi benih. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menghasilkan benih dengan jumlah yang maksimum dan kualitas fisiologis yang baik dengan cara yang efisien dan ekonomis. Metode yang digunakan pun bisa dengan metode basah dan kering.

Dari dua metode ini, Sahwalita menganjurkan untuk menggunakan ekstraksi basah. Caranya dengan menggilas kulit buah rotan diatas tampah agar kulitnya terkelupas. Tujuannya untuk merusak lapisan buah yang kedap dan melukai daging buahnya, sehingga kulit buah lebih cepat busuk selama perendaman.  Perendaman dilakukan sekitar 3 hari atau lebih atau sampai daging buah busuk, sehingga mudah dipisahkan/dikelupas dari benih. Kemudian, buah yang telah busuk digilas diatas tampah untuk menghancurkan daging buah dan selanjutnya dicuci. Kegiatan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai daging buah bersih dan tidak ada lagi kulit yang menempel pada benih tersebut.

Setelah diekstraksi, benih rotan jernang dibersihkan dari kotoran sisa ekstraksi serta dipilih berdasarkan warna dan ukuran. Benih yang baik ditandai dengan kulit benih yang berwarna kecoklatan sampai coklat dan memiliki ukuran sedang sampai besar. Benih yang berukuran kecil diupayakan tidak digunakan, karena biasanya hampa atau kosong dan dikhawatirkan tidak akan menghasilkan kecambah dengan baik.

Tahap selanjutnya adalah merendam benih yang telah terpilih selama 3 hari. Perendaman ini bertujuan untuk membantu melunakkan operkulum (lapisan pelidung) dan memacu proses penyerapan air (imbibisi) ke dalam benih yang akan memacu proses perkecambahan.  Setelah benih rotan direndam, kemudian ditiriskan lalu di rendam kembali dalam larutan fungisida sekitar 15 menit.

Benih yang telah direndam dalam larutan fungisida, selanjutnya dimasukkan kedalam kantong plastik bening, dengan ukuran yang menyesuaikan dengan jumlah benih. Sebagai info, kantong plastik ukuran 3 kg dapat menampung sekitar 200 butir benih. Kantong plastik berisi benih tersebut, selanjutnya diikat erat dengan karet dan diusahakan mendapat udara dalam plastik, yang akan dibutuhkan selama proses perkecambahan.

“Biasanya benih rotan jernang akan mulai berkecambah pada minggu kedua. Untuk menghindari serangan jamur, pastikan untuk mengganti udara di dalam kantong” kata Sahwalita. Ia juga menjelaskan kalau benih rotan yang mulai berkecambah ditandai dengan lepasnya operkulum dan munculnya organ tumbuh berwarna putih pada titik tumbuh yang selanjutnya akan berkembang menjadi radikel dan plumula.

Tahapan terakhir, yaitu memasukkan kecambah-kecambah itu ke dalam wadah yang berisi media cocofeat halus lembab dan steril (disemprot dengan fungisida). Pemeliharaan kecambah dalam wadah ini dilakukan sampai kecambah membentuk akar dan batang jarum, hingga layak untuk disapih ke dalam polibag dengan panjang plumula sekitar 2 cm dan radikel sekitar 5 cm.

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar