Berita ~ Berita Litbang

Peneliti BP2LHK Palembang Rekomendasikan Tembesu Untuk Revegetasi Program Restorasi Gambut Nasional

Jumat, 21 Feb 2020 | 337

Peneliti BP2LHK Palembang Rekomendasikan Tembesu  Untuk Revegetasi Program Restorasi Gambut Nasional

BP2LHK Palembang (Palembang, 20/2/2020). Siapa yang tak kenal dengan kayu raja andalan Sumatera ini, Tembesu (Fagraea fragrans Roxb). Pohon yang penyebarannya sampai ke Irian Jaya ini, mempunyai nilai budaya yang tinggi di Sumatera Selatan. Istimewanya lagi, tembesu memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi dan dapat tumbuh baik pada berbagai kondisi lingkungan dan lahan, seperti pada tanah sarang, tanah berpasir atau tanah liat berpasir, bahkan pada  tanah yang miskin hara, tanah dengan drainase yang buruk serta lahan rawa gambut.  Selain itu, tembesu cocok hidup di iklim basah sampai agak kering dan dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-500 m dari permukaan laut. “Selain karakteristiknya, tembesu juga mempunyai nilai jual yang tinggi, karena itu kita merekomendasikannya untuk kegiatan revegetasi program restorasi gambut nasional”, ujar Agus Sofyan peneliti Balai Litbang LHK Palembang.

 

Agus Sofyan mengatakan bahwa melalui serangkaian penelitian yang dilakukan Balai Litbang LHK Palembang, sudah dibuktikan kalau tembesu bisa tumbuh dengan baik di lahan rawa gambut, yang bisa dilihat di sepanjang jalan di depan Kebun Plasma Nutfah dan Demonstrasi Plot Restorasi Gambut Bekas Terbakar milik Balitbang LHK Palembang di Kabupaten OKI.

 

Agus Sofyan juga menambahkan kalau pertumbuhan tembesu di lahan rawa gambut sama persis seperti pertumbuhannya di lahan mineral. Tembesu di lahan rawa gambut juga dapat tumbuh besar, berbatang lurus dengan pertumbuhan diameter dan tinggi yang dapat mencapai 150 cm dan 40 m, dan bebas cabang yang bisa mencapai lebih dari setengah tinggi tanaman. Tembesu juga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi, sehingga  mudah tumbuh pada berbagai kondisi lahan baik melalui tunas akar maupun dari biji. Secara alami, tembesu tumbuh sebagai tanaman pionir pada areal-areal terbuka bekas tebangan, bekas terbakar, lahan alang-alang atau pada hutan sekunder yang lembab.

 

Tanaman tembesu mempunyai tajuk yang indah berbentuk kerucut seperti pagoda dan hijau sepanjang tahun. Daunnya berbentuk bulat telur – lonjong, dengan panjang daun 3-15 cm dan lebar 1,5 – 6 cm Bunga tembesu merupakan bunga tunggal berbentuk corong dengan panjang berkisar  0,7 - 2,3 cm, berwarna putih atau putih gading dengan aroma yang harum. Batangnya dilapisi kulit berwana coklat hingga hitam dengan alur dangkal hingga dalam. Kayu terasnya berwarna coklat-kuning muda dan jika kena udara berubah warna menjadi coklat-kuning emas atau coklat-jingga.

 

Kayu gubalnya tidak mudah dibedakan secara jelas dari kayu terasnya, namun secara umum kayu gubalnya berwarna lebih muda. Tekstur kayunya halus hingga agak halus dengan arah serat lurus. Permukaan kayu agak mengkilap dan kesat. Kayu ini mempunyai berat jenis rata-rata 0,81 (0,72 – 0,93), karenanya masuk dalam Kelas Kuat II-I dengan Kelas Awet I. Namun, pengeringan kayunya sangat lambat. Untuk kayu dengan tebal 2 cm,  proses pengeringan alami kadar air 40% menjadi 15% memerlukan waktu 93 hari.

Walaupun demikian, kayu tembesu mudah untuk digergaji dan dikerjakan dengan baik, mudah juga diserut, di bor, dibentuk, dibubut dan dipelitur dengan hasil yang baik pula. Oleh sebab itu, kayu ini bersifat komersial, dimana bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam menunjang kehidupan masyarakat, seperti kayu pertukangan, konstruksi berat, pembangunan jembatan, rumah, pembuatan kapal, mebel dan furnitur serta berbagai macam produk ukiran. (Fitri).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar