Berita ~ Fokus Litbang

Tips Menanam Pohon Di Lahan Gambut Bekas Terbakar

Rabu, 29 Jul 2020 | 191

Tips Menanam Pohon Di Lahan Gambut Bekas Terbakar

BP2LHK Palembang__Secara umum, permukaan lahan gambut seringkali tidak menggambarkan kondisi sebagaimana nampaknya, terutama pada areal yang pernah mengalami kebakaran. Areal gambut bekas kebakaran biasanya dicirikan dengan hamparan areal terbuka dan didominasi oleh tumbuhan bawah pakis-pakisan serta terjadinya suksesi alami dengan ditandai oleh pertumbuhan kerapatan rendah dari jenis-jenis pohon pionir seperti gelam, beriang, gerongang, dan tembesu serta munculnya hamparan lahan gambut yang seringkali dalam kondisi keropong pada bagian di bawah permukaan lahannya.

Peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Agus Sofyan, mengatakan kondisi dan karakter lahan gambut sangat berbeda dengan lahan mineral atau lahan lainnya, sehingga  dibutuhkan pemahaman yang tepat serta perlakukan yang khusus agar terhindar dari resiko kegagalan dalam penanaman. Bila tidak, rangkaian kegiatan sebelum penanaman berupa pembuatan jalan, perintisan, pengajiran, penebasan tumbuhan bawah dan penyemprotan yang telah mengeluarkan biaya sangat besar serta waktu yang cukup lama akan menjadi sia-sia jika penanamannya tidak dilakukan secara benar dan tepat sesuai karakter lahannya.

“Untuk lahan yang keropong atau kosong pada bagian bawah (di bawah permukaan), hal pertama yang harus dilakukan dalam penanaman adalah memadatkan tanah gambut di sekitar lubang tanamnya,” kata Agus Sofyan. Ditambahkannya juga, bibit haruslah ditanam (setelah pelepasan polybagnya) dalam posisi tegak berdiri pada lubang tanam sampai sebatas leher akar atau kurang lebih 3 cm di atas polybag. Kemudian, lubang tanam ditutup dengan top soil (tanah gambut) yang diambil dari sekitar lubang tanam dengan cara menekan atau memadatkan media/tanah gambut secara perlahan sehingga benar-benar telah memadat. Dengan cara ini, batang bibit serta akar dapat tumbuh dengan kuat.

Selain tanah yang keropong, kendala lainnya yang ditemui di areal gambut bekas terbakar adalah akar tumbuhan pakis.  Biasanya akar pakis yang tumbuh di lahan gambut ini sangat tebal dan dengan dimensi luasan yang cukup besar. Meskipun sudah dilakukan penyemprotan herbisida terhadap lahan tersebut, akar pakis dapat tumbuh kembali dalam waktu yang relatif singkat sesaat setelah masuknya musim penghujan.  Hal ini akan sangat mengganggu pertumbuhan bibit yang akan ditanam.

“Dalam melakukan penanaman bibit di lahan gambut, sebelumnya harus dipastikan dulu kalau penanaman pada lubang tanamannya dilakukan pada atau di atas media gambut bukan diatas akar pakisnya”, ujar Agus Sofyan. Ia menambahkan kalau penanaman bibit dilakukan diatas akar pakis (tanpa membuang akar pakis), akan menimbulkan kegagalan pertumbuhan bahkan dapat menyebabkan kematian bibit pada tanaman muda.

Lebih lanjut, Agus Sofyan mengatakan bahwa pembuatan lubang tanam harus dilakukan dengan terlebih dahulu membersihkan lahannya dari tumbuhan bawah terutama lapisan akar pakis. Selanjutnya, memadatkan gambut di sekitar lubang tanam yang keropong dengan menggunakan cangkul, linggis atau dodos hingga media tumbuh disekitar lubang tanam dan piringan benar-benar padat dan tidak amblas. Media gambut yang digunakan untuk pengisian dan pemadatan pada lubang tanam dapat diambil dari gambut yang ada di areal sekitar. Pemadatan dibuat berbentuk piringan berdiameter ± 50 cm dengan titik pusatnya adalah ajir tanaman. Kegiatan pengguludan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi gambut yang ada, jika sekitar lubang tanam dan bibit dikahawatiri tergenang pada saat musim hujan maka diperlukan guludan yang relatif tinggi, namun jika tidak tergenang maka pengguludan disesuaikan dengan kondisi sekitar.

Tahapan penting lainnya setelah dilakukan kegiatan penanaman adalah proses pengapuran yaitu pemberian dolomit disekitar atau sekeliling batang tanaman. Pemberian dolomit ini ditujukan untuk meningkatkan pH tanah. Pemberian dolomit dilakukan dengan cara menaburkannya pada permukaan tanah di sekeliling batang.

Penanaman di lahan gambut seringkali mengalami gangguan hama, terutama babi. Untuk mengurangi gangguan hama babi, diperlukan perlindungan tanaman pada saat penanamannya, misalnya dengan  melakukan pemagaran secara sederhana dengan bahan berupa ranting atau cabang yang ada pada sekitar areal penanaman. (FA)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar