Berita ~ Fokus Litbang

MERESTORASI YANG TERSISA, MEREVITALISASI YANG LEMAH

Senin, 19 Okt 2020 | 75

MERESTORASI YANG TERSISA, MEREVITALISASI YANG LEMAH

Balai Litbang LHK Palembang__ Obrolan Pelepas Lelah (OPL) seri 2 kali ini mengusung tema “Harmonisasi Manusia dan Alam di Dataran Rendah”. Mengulas hal-hal yang seringkali keberadaanya dianggap kecil, tidak penting bahkan dianggap tidak bermanfaat namun tak disangka punya banyak keistimewaan dalam kehidupan manusia.   

Obrolan Pelepas Lelah (OPL), webinar berseri yang diselenggarakan Balai Litbang LHK Palembang, diharapkan dapat mengisi gap penelitian yang ada saat ini. Dibawakan secara santai, namun pesan yang ingin disampaikan ke sahabat OPL jelas bahwa ternyata banyak fenomena yang sering kali luput diperhatikan namun menjanjikan berbagai maslahat yang besar bagi masyarkat.

Contohnya, keberadaan jamur alam yang seringkali dilirik sebelah mata. Komoditi ini kerap dianggap tidak menguntungkan. Sebaliknya, peluang ekspornya sangat mengiurkan karena tingkat konsumsi jamur di luar negeri cukup tinggi bahkan tergolong makanan yang berkelas.

Menurut Maliyana, kurangnya informasi mengenai budidaya dan prospek pasar jamur baik nasional maupun internasional membuat banyak petani mengabaikan potensinya. Padahal, jamur Indonesia sangat digemari di luar negeri terutama negara Cina, Korea dan Singapura. Seperti jamur pelawan yang teksturnya menyerupai daging dan mempunyai kandungan protein yang tinggi. Sayangnya masih banyak masyarakat yang menebang pohon pelawan untuk diambil kayunya, tanpa menyadari hilangnya potensi jamur dengan nilai rupiah yang lebih tinggi.

Selain itu, budidaya jamur yang ada di masyarakat belum berwawasan lingkungan. Menurutnya diperlukan terobosan baru untuk mengembangkan inovasi budidaya jamur yang ramah lingkungan. Selama ini budidaya jamur banyak dikembangkan menggunakan baglog dengan plastik sebagai wadah medianya, sedangkan plastik menjadi masalah bagi lingkungan.

“Petani kita bisa belajar dari teknik budidaya di Timur Laut Amerika Serikat dan Cina, yang lebih banyak menggunakan metode log yaitu batang tebangan kayu yang direbahkan dan ditempatkan di alam terbuka disertai manipulasi lingkungan yang mendukung pertumbuhan jamur. Ini lebih ramah lingkungan”, ujarnya.

Senada dengan yang disampaikan Maliyana, Asmaliyah juga menilai potensi pohon pelawan sangat prospektif untuk dijadikan terapi kesehatan. Pohon ini memiliki kandungan senyawa aktif golongan falvonoid, saponin, tanin, steroid dan alkaloid. Penelitiannya menunjukkan ekstrak air daun pelawan ini bisa menjadi sumber antioksidan alami karena kemampuannya yang baik dalam menangkap sel radikal bebas.

 “Kurangnya bukti empiris kalau daun pelawan itu baik untuk kesehatan, membuat profesi kesehatan atau dokter enggan meresepkannya ke pasien mereka. Sementara itu, etnis Sumatera dan Kalimantan banyak yang menggunakan tanaman pelawan ini untuk obat berbagai penyakit, mulai dari penyakit ringan sampai penyakit berat”, kata Asmaliyah.

 Asmaliyah juga mengungkapkan saat ini madu pelawan sebagai herbal lebih dikenal ketimbang daunnya. Oleh sebab itu, ia berharap pelawan dapat dikaji lebih dalam, untuk membuktikan potensinya sebagai tumbuhan obat. Ditambahkannya, ia ingin  mengajak masyarakat khususnya pihak yang terkait untuk sama-sama melakukan upaya penangkaran karena keberadaan pelawan baik di alam maupun budidaya sudah tergolong langka.

 Kelangkaan ini juga terjadi pada keberadaan kayu raja, tembesu. Kayu yang sangat identik sekali dengan budaya masyarakat Sumsel ini semakin jarang ditemui. Menurut Agus Sofyan, kebutuhan akan kayu ini sangat tinggi di Sumsel, karena banyak rumah maupun perabot rumah, terutama lemari ukir khas Palembang, dibuat dari kayu ini.

 Selain itu, salah satu keistimewaan tembesu yang jarang dimiliki oleh tanaman lain adalah kemampuan regenerasi alami nya yang sangat besar melalui tunas akar dan itu terjadi pada semua tipe lahan, pembibitannya juga mudah. “Karena sifat adaktifnya itulah kayu ini cocok dijadikan tanaman unggulan baik dalam program restorasi, reklamasi maupun rehabilitasi”, terang Agus Sofyan.

Mengingat kebutuhan dan potensinya kedepan, Agus Sofyan berharap akan ada kebijakan pemerintah nantinya yang mewajibkan dibangunnya kebun-kebun tembesu di masyarakat, khususnya masyarakat Sumsel.

 Salah satu potensi biodiversiti yang keberadaanya juga sering dianggap sebagai penggangu dan tidak memiliki manfaat besar, namun ternyata setelah diteliti memiliki fungsi yang sangat besar adalah tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah yang sering dipersepsikan sebagai gulma ini terbukti memiliki kelebihan tersendiri.

 Sri Utami yang melakukan penelitian pasca kebakaran menemukan adanya serangan hama penggerek batang di tegakan bambang lanang, dimana serangan ini tidak terjadi sebelum kebakaran. Dia menyadari pentingnya tumbuhan bawah yang tumbuh pasca kebakaran hutan, karena siapa sangka gulma seperti babadotan dan rumput kancing ungu bisa menjadi penolong bagi tegakan tersebut. Diketahui, kedua gulma ini mampu menekan serangan hama penggerek batang pasca kebakaran.

 “Dari temuan ini, akhirnya kita melakukan rekayasa habitat. Tumbuhan bawah ini kita pelihara, tidak kita tebas semuanya. Ini karena beberapa jenis tumbuhan bawah tersebut merupakan rumah, mikrohabitat, shelter, sumber pakan dan sumber daya lainnya bagi musuh alami hama seperti parasitoid”, jelasnya.

Lebih lanjut Sri Utami mengatakan bahwa dari penelitian yang dilakukannya di tahun 2015, menunjukkan adanya penurunan serangan hama defoliator pada tegakan jabon merah dan jabon putih pasca kebakaran. Sebelum terjadi kebakaran, persentase dan tingkat serangan hama tersebut sangatlah besar. Menurutnya ini disebabkan karena adanya pengaruh dari asap, partikel dan gas kimia hasil kebakaran yang menyebabkan kematian hama defoliator tersebut.

 Walaupun diperlukan riset lanjutan untuk melihat dampak tumbuhan bawah dalam pengendalian hama hutan pasca kebakaran, ia menyarankan agar petani tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk mengganti atau menanam kembali tegakan yang telah terbakar, lantaran kondisi biotik yang muncul pasca kebakaran. “Bila dipahami, kondisi ini sebenarnya mampu mendukung tingkat keberhasilan produktivitas tegakan tersebut”,

 Potensi besar lainnya yang tidak lazim ditemukan saat ini adalah penggunaan gajah sebagai alat transportasi. Menurut Purwanto, pengangkutan bibit tanaman dengan menggunakan tenaga gajah memiliki banyak manfaat. Minim sekali ditemukan bibit tanaman yang rusak, seperti cabang tanaman patah, polybag yang hancur maupun daun rontok.

 Selain itu, transportasi dengan menggunakan tenaga gajah di areal konservasi SM. Padang Sugihan dikatakan cukup efektif karena gajah ini mampu menerobos areal konservasi yang penuh dengan alang-alang yang lebat dan tinggi, duri yang tajam hingga jalan yang licin.

“Banyak faktor yang mendasari mengapa gajah yang digunakan disini. Salah satunya karena areal yang akan direvegetasi jauh dari perkampungan, sehingga cukup sulit untuk memperoleh tenaga kerja. Selain itu juga, jumlah bibit yang dibutuhkan banyak, sehingga diperlukan tenaga yang sangat besar”, ujar Purwanto.

 Seri kedua OPL ini mengulas hal-hal yang keberadaannya jarang disadari namun memberikan nilai yang sangat penting baik bagi lingkungan maupun kehidupan manusia.

Tertarik mengikuti seri selanjutnya yang akan tayang hari Selasa tanggal 20 Oktober 2020?. Segera daftarkan diri Anda dengan mengklik link berikut

https://bit.ly/OPL-seri-3

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar