Berita ~ Fokus Litbang

Menggali Potensi Ekonomi Melalui Kreatifitas Budidaya di Lahan Basah

Senin, 2 Nov 2020 | 55

Menggali Potensi Ekonomi Melalui Kreatifitas Budidaya di Lahan Basah

Balai Litbang LHK Palembang__Di ekosistem lahan basah yang airnya cenderung menggenang dekat dengan permukaan, sisa-sisa tumbuhan mati memang tidak sepenuhnya membusuk melainkan terakumulasi sebagai gambut. Akan tetapi, persepsi masyarakat terhadap pemanfaatan lahan basah masih kurang mendapat respon positif. Akibatnya banyak potensi besar yang bisa digarap menjadi tidak termanfaatkan dengan baik.

Lahan rawa gambut merupakan bagian ekosistem yang memiliki karakteristik dan fungsi yang unik. Gambut mempunyai fungsi hidrologis sebagai penampung air karena sifat gambut yang seperti spon sehingga dapat menyerap banyak air.

Beberapa peluang budidaya yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar di lahan gambut menjadi bahasan utama di webinar Obrolan Pelepas Lelah (OPL) seri ke-tiga yang diikuti lebih kurang 250 orang sahabat OPL melalui aplikasi zoom dan 50 orang melalui kanal youtube Balai Litbang LHK Palembang (20/10/2020).  

Sebut saja tanaman kayu putih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi) yang produk minyaknya dipakai mulai dari bayi sampai ke lansia. Potensi budidayanya di lahan gambut ternyata sebesar bila ditanam di lahan mineral.

“Penanaman kayu putih di lahan gambut tidak perlu dilakukan dengan pengeringan lahan terlebih dahulu, jadi bisa langsung ditanam”, kata Imam Muslimin, peneliti BP2LHK Palembang di bidang Silvikultur. Imam mengatakan tanaman kayu putih yang ditanam di lahan gambut bisa menghasilkan daun yang bisa disuling menjadi minyak kayu putih dengan nilai rendemen 0,65%. Artinya, setiap 100 kg daun kayu  putih akan menghasilkan 0,65 kg atau setara dengan 0,58 liter minyak kayu putih.

Lebih lanjut, Imam menerangkan kalau budidaya tanaman kayu putih di lahan gambut ini masih merupakan ilmu baru, sehingga referensi terkait masih belum banyak. Beberapa referensi menyebutkan jenis tanaman Melaleuca leucadendron dan Melaleuca cajuputi yang bisa dikembangkan di lahan rawa/gambut mengacu ke jenis tanaman gelam. Referensi ini  merupakan hasil penelitian ataupun survey potensi hutan yang terdapat di wilayah Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang memang daerah tersebut merupakan populasi alami gelam.

Potensi budidaya di lahan gambut yang tak kalah menggiurkan adalah budidaya tanaman hias, kantong semar (Nepenthes sp.). Menurut Fatahul Azwar, kantong semar memiliki keunikan tersendiri yaitu kantongnya dapat memodifikasi daunnya sehingga dapat menangkap atau menjebak serangga atau binatang kecil lainnya.

“Nepenthes tak kalah cantiknya dengan tanaman hias yang sedang naik daun saat ini seperti aglonema atau monstera. Ditambah lagi dengan keunikannya, yang mampu menyerap nutrisi dari binatang atau serangga yang terjebak dalam kantongnya, sehingga menjadikan tumbuhan ini digolongkan kedalam salah satu jenis tumbuhan karnivora”, terang Azwar. Habitat kantong semar ini tersebar mulai dari dataran rendah (termasuk lahan basah) hingga dataran tinggi.

Akan tetapi, keberadaannya sekarang mulai terancam akibat alih fungsi lahan atau kebakaran hutan. Terlebih lagi ketidakpedulian masyarakat sekitar terhadap tanaman ini. “Tanaman ini bila dibudidayakan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat, tentunya dengan tidak mengesampingkan aspek konservasinya.

Kajian-kajian yang ada masih terbatas pada kajian ekologi dan taksonominya saja, sedangkan kajian budidaya, aspek sosial dan ekonominya serta pemanfaatan berbagai potensi lainnya belum banyak dilakukan. “Sayang sekali, padahal secara umum Indonesia memiliki 48,9% jenis kantong semar dari seluruh jenis yang ada di dunia”, ujar peneliti konservasi dan pengaruh hutan ini.

Potensi budidaya kreatif dan menarik lainnya di lahan gambut datang dari pembahasan peneliti ICRAF. Bagi Subekti Rahayu, potensi jelutung rawa tidak kalah hebatnya dengan komoditas-komoditas lainnya, walaupun sekarang pasar jelutung seakan lagi mati suri. Menurutnya, jelutung rawa (Dyera lowii) adalah spesies yang mampu beradaptasi dengan ekosistem rawa gambut dan memiliki sejarah panjang sebagai sumber penghidupan masyarakat yang memiliki peran penting dalam pelestarian hutan.

“Jelutung ini salah satu komoditas eksotik di lahan gambut. Hanya saja populasi jelutung alami semakin lama semakin menghilang karena hutan habitatnya hilang, ditambah lagi anggapan masyarakat yang memandang susahnya budidaya jelutung padahal mereka belum memahami teknik budidayanya”, ujar Rahayu.

Rahayu berharap ada aksi dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk terus menyebarkan informasi mengenai teknik budidaya jelutung dan pengembangan industri nya., Selain itu juga ada perubahan dari kebijakan pemanfaatan HHBK dalam kawasan konservasi, karena selama ini belum ada skema bagaimana masyarakat bisa mendapatkan akses untuk memanfaatkan populasi jelutung alami yang masih tersisa di kawasan konservasi.

Hal ihwal budidaya di lahan basah ini ternyata sudah diterapkan di negara-negara Eropa, misalnya di Jerman dan di Polandia yang menjadi contoh sukses pelaksanaan paludikultur. Budidaya di lahan basah yang kerap dikenal dengan sistem paludikultur ini, memanfaatkan lahan gambut tanpa di drainase terlebih dahulu atau terlebih dahulu dilakukan pembasahan. Selanjutnya, perlu memilih spesies rawa asli gambut, yang tidak hanya dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat menghasilkan biomassa yang akan berkontribusi pada pembentukan gambut dalam jangka panjang.

Ibnu Budiman, peneliti dari World Resources Institute Indonesia, mengatakan bahwa sistem paludikultur memberikan alternatif mata pencaharian pada masyarakat di wilayah gambut, sehingga mereka tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak gambut. Ia menekankan perlunya memperkuat kerja sama antar program paludikultur, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional, sehingga dapat mengelola risiko global dari lahan gambut.

Namun, kreatifitas budidaya ini juga mempunyai banyak tantangan. Salah satu tantangannya adalah kebakaran. Agus Kurniawan, peneliti BP2LHK Palembang, yang mendalami penelitian di bidang perlindungan, menyayangkan kebakaran di lahan gambut yang setiap tahunnya terjadi dan dengan skala yang sangat luas.. Kebakaran ini dapat menimbulkan kerusakan yang luar biasa terhadap fungsi-fungsi ekologi. Selain itu juga melibatkan risiko keselamatan sumberdaya, belum lagi biaya pemadaman yang cukup fantastis besarnya.

“Upaya pencegahan karhutla di lahan gambut harus selalu menjadi prioritas dibandingkan upaya pemadaman”, ujarnya. Agus juga menerangkan kalau lahan gambut di Indonesia pada umumnya telah mengalami pengeringan akibat pembangunan kanal-kanal drainase yang meningkatkan risiko tingginya kebakaran hutan. Seringkali karena kondisi kering ini,  karhutla akan sulit untuk dikendalikan. “Lahan gambut akan berubah sifat dari yang bisa menyerap air (hidrofilic) menjadi yang menolak air (hidrofobic), sehingga gambut tidak berfungsi lagi sebagai tanah melainkan berubah menjadi seperti kayu kering”, jelasnya.

Nah, bagaimana sahabat OPL, bahasan yang seru dan menarik bukan?. OPL seri ke-empat akan dilaksanakan tanggal 5 November 2020. Kegiatan ini gratis dan panitia menyiapkan giveaway bagi peserta yang bertanya di chat room zoom. Tertarik mengikuti OPL seri selanjutnya?. Link pendaftaran dapat dilihat dibawah ini

http://bit.ly/OPL_seri_4

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar