Berita ~ Focus Litbang

Lakukan Riset Efek ENSO terhadap Harga Komoditas Pangan

Kamis, 9 Sep 2021 | 21

Lakukan Riset Efek ENSO terhadap Harga Komoditas Pangan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan Indonesia Forestry Researcher (INAFOR) kembali gelar konferensi internasional untuk keenam kalinya dengan tajuk The 6th INAFOR 2021, Greener Future: Environment, Disaster Resilience and Climate Change. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada tanggal 7 – 8 September 2021 yang dibagi menjadi 5 stream yaitu (1) Emerging Environment Quality for better living, (2) Managing forest and natural resources, meeting sustainable and friendly Use, (3) Enhancing resilience capacity of disasters and climate change, (4) Engaging social economic of environment and forestry, better social welfare, dan (5) Cutting COVID-19 transmission, handling health and economic impacts.

Setelah pada hari pertama, peserta konferensi disuguhi paparan dari high level panel speaker seperti Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc, Dr. Agus Justianto, dan Drs. Kukuh S. Achmad, M.Sc, pada hari kedua, peserta dibebaskan untuk mengikuti paparan sesuai dengan stream yang tersedia. Salah satu presenter pada stream 3 adalah Leo Rio Ependi Malau, S.E., M.Si. yang merupakan peneliti ahli pertama di BP2LHK Palembang. Leo memaparkan hasil riset dengan judul Study of ENSO impact on agricultural food crops price as basic knowledge to improve community resilience in climate change yang dalam pelaksanaannya dikerjakan bersama dengan peneliti BP2LHK lainnya yaitu Dr. Nur Arifatul Ulya, Dr. Mamat Rahmat, dan Raissa Anjani, S.Si. M.T.

Sesuai judul risetnya, Leo dan tim melakukan studi mengenai efek El Nino Southern Oscillation (ENSO) terhadap harga komoditas tanaman pangan yang sebagian besar menjadi makanan pokok di Indonesia seperti beras, ubi, singkong, serta sejumlah jenis kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang kedelai, dan kacang tanah di 23 provinsi pada periode 2010 – 2017. ENSO merupakan salah satu gejala perubahan iklim yang terdiri atas El Nino dan La Nina, Kedua gejala ENSO ini biasanya ditunjukkan dengan adanya perubahan curah hujan secara drastis. Perubahan curah hujan inilah yang berdampak langsung pada produktivitas bahan pangan yang berujung pada kenaikan atau penurunan harga jualnya tergantung kebutuhan pasar.

Berdasarkan studi yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa El Nino memberikan dampak yang lebih besar terhadap harga komoditas tanaman pangan dibandingkan dengan La Nina. Kondisi El Nino yang ditandai dengan penurunan curah hujan mengakibatkan kenaikan harga beras, ubi dan kacang hijau, sedangkan kondisi La Nina yang ditandai dengan kenaikan curah hujan berdampak pada kenaikan harga singkong.

Ultimate goal dari penelitian ini bukan hanya untuk melihat seberapa besar efek ENSO terhadap harga komoditas tanaman pangan, lebih jauh dari itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana strategi mitigasi dan adaptasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan sembari terus menerus melakukan upaya perbaikan dan pencegahan perubahan iklim agar tidak semakin parah. Upaya mitigasi dan adaptasi efek ENSO dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya yaitu penggunaan bibit tanaman yang tahan cuaca ekstrim, pengaturan masa tanam dan masa panen, pengembangan sistem irigasi dan drainase, pengembangan sistem perkiraan cuaca serta pemanfaatan asuransi agrikultural. Seluruh upaya diatas tentunya harus dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi dan kearifan lokal untuk mendapatkan hasil yang optimal. Peran penyuluh pertanian serta pemanfaatan media sosial diharapkan dapat menjadi jawaban  atas permasalahan terkait bagaimana cara menyampaikan hasil penelitian ini kepada para petani sebagai pelaksana langsung di lapangan. (Raissa Anjani).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar