Berita ~ Terbaru

Kunjungi KKPN, Direktur KIFC Optimis Proyek Restorasi di Jambi Akan Berhasil

Kamis, 10 Jun 2021 | 90

Kunjungi KKPN, Direktur KIFC Optimis Proyek Restorasi di Jambi Akan Berhasil

Balai Litbang LHK Palembang.__”Kami senang sekali melihat keberhasilan Balai ini dalam upaya merestorasi gambut. Pengalaman, pengetahuan dan keahlian yang dimiliki Balai ini tentunya akan sangat membantu proyek restorasi di HLG Londerang, Jambi. Dengan contoh seperti ini, kami optimis, proyek restorasi di Jambi juga akan berhasil”, ucap Direktur Korea-Indonesia Forest Center, Lee Sung-gil kala berkunjung di Kebun Konservasi Plasma Nutfah (KKPN), Balai Litbang LHK Palembang (Selasa, 8/6/2021).  

Dalam kunjungan ini, Direktur KIFC yang ditemani oleh Deputy Director Global Forest Resources Division, Korea Forest Service, Republic of Korea, Lee Sang Hyeop, beserta tim berkesempatan untuk mempelajari hal-hal yang harus dipahami terlebih dahulu dalam melakukan restorasi.

Sementara itu, Lee Sang Hyeop, Deputy Director Global Forest Resources Division, Korea Forest Service, Republic of Korea juga merasa kagum bahwa dalam jangka waktu 11 tahun, tanaman di KKPN mampu tumbuh dengan subur dengan angka keberhasilan hidup sebesar 90 persen.

 

Menjawab pertanyaan mengenai apa yang membuat demplot ini berhasil, peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Bastoni, menjelaskan keberhasilan demplot ini salah satunya didukung oleh pengenalan kharakteristik gambut di daerah tersebut dan pemilihan tanaman yang sesuai di area gambut tersebut.

Lebih lanjut Bastoni mengungkapkan restorasi (pemulihan) dapat dipercepat melalui penerapan teknik silvikultur khusus yang mengacu pada 3 karakter lahan kunci, yaitu: (1) Kedalaman Gambut, (2) Kedalaman Genangan Air, dan (3) Kedalaman Muka Air Tanah.  Status ketiga karakter lahan tersebut akan membentuk apa yang disebut sebagai Karakteristik Lahan Gambut Terdegradasi. Perlakuan silvikultur yang paling sesuai akan dapat direkomendasikan setelah karakteristik lahan gambut terdegradasi diketahui.

Kebun Konservasi Plasma Nutfah yang dikelola oleh Balai Litbang LHK Palembang berlokasi di Kecamatan Kedaton, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Dulunya, area ini  merupakan hutan dan lahan rawa gambut yang mengalami kebakaran berulang pada musim kemarau di tahun 1997 dan 2006.

Suksesi alami yang terbentuk 4 tahun setelah kebakaran (tahun 2010) hanya terdiri dari pakis dan rumput rawa, belum ada suksesi pepohonan. Penyiapan lahan dan penanaman pertama dilakukan sebelum areal sekitar demplot didrainase untuk perkebunan sawit pada bulan April - Mei 2010, lahan gambutnya masih tergenang dengan kedalaman genangan berkisar antara 10 – 30 cm.

Penyiapan lahan dan penanaman kedua dilakukan sesudah areal sekitar demplot didrainase untuk perkebunan sawit pada bulan Januari – Februari 2012, lahan gambut sudah kering dengan kedalaman muka air tanah berkisar antara 20 – 40 cm. Drainase lahan gambut telah mengubah status hidrologi lahan dari tergenang menjadi kering.

 

Sebelum drainase lahan, muka air tanah pada areal restorasi berkisar antara -20 cm sampai 50 cm (lahan tergenang di musim hujan dan kering di musim kemarau). Setelah drainase lahan, muka air tanah berkisar antara 30 cm sampai 150 cm (lahan lembab pada musim hujan dan sangat kering pada musim kemarau).

 

Pada kasus ini, restorasi areal bekas kebakaran dilakukan pada areal dengan kondisi lahan yang tidak ideal dengan habitat alami jenis-jenis pohon yang ditanam, tetapi dengan perlakuan silvikultur khusus yang memperhatikan karakteristik lahan gambut setempat, pertumbuhan pohon cukup memuaskan dengan daya hidup (survival rate) berkisar antara 82 – 97 persen, riap (MAI) tinggi berkisar antara 87 – 214 cm/tahun, dan riap (MAI) diameter berkisar antara 1,36 – 2,83 cm/tahun.

 

Pada tahun 2016, penutupan tajuk pepohonan meningkat dari 0% sebelum tanam menjadi 50% - 70% serta terjadi peningkatan serapan karbon (carbon sequestration) permukaan oleh jenis-jenis pohon yang ditanam. Hasil yang telah diperoleh tersebut merupakan pengalaman sekaligus pembelajaran restorasi lahan gambut bekas kebakaran yang siap diperluas (scale up) untuk membantu program restorasi gambut nasional. (Fitri)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar