Berita ~ Fokus Litbang

Ketika Dukun, Burung, Saninten dan Permodelan Membentuk Harmoni antara Manusia dan Alam

Kamis, 1 Okt 2020 | 56

Ketika Dukun, Burung, Saninten dan Permodelan Membentuk Harmoni antara Manusia dan Alam

Balai Litbang LHK Palembang.__ “Ketika dukun, burung, saninten, dan permodelan membentuk harmoni antara manusia dan alam” inilah yang diangkat menjadi  tema dalam seri pertama Obrolan Pelepas Lelah (OPL) Balai Litbang LHK Palembang yang dilaksanakan secara daring tanggal 24 September 2020 kemarin. Berbicara tentang hal yang baru ternyata memberikan inspirasi kepada para sahabat OPL dan berhasil menarik minat sekaligus memberikan wawasan lebih kepada para zoomers.

Sesi pertama dibuka dengan pertanyaan yang ringan namun gampang-gampang susah untuk dijawab. “Masihkah orang zaman sekarang percaya pada dukun?”, tanya Etik Erna Wati Hadi.

Berdasarkan wawancara penelitiannya di lapangan, ternyata masih banyak orang, khususnya di daerah-daerah yang masih jauh dari pusat kesehatan, masyarakat tradisional, yang percaya pada keahlian sang dukun dalam mengobati suatu penyakit.

“Biasanya dukun atau pengobat tradisional atau biasa disebut battra, mengobati pasiennya dengan menggunakan jampi dan ramuan obat-obatan. Ramuan ini biasa nya terdiri dari daun, akar, kulit batang, buah, biji dan bagian-bagian tumbuhan lain nya yang diambil dari hutan”, ujar Etik.

Seberapa percaya orang akan kesaktian dukun, mungkin masih bisa diragukan, tapi isu pengobatan dengan ramuan bahan alami, saat ini telah menjadi trend dan menjadi salah satu pilihan pengobatan serta pertimbangan kesehatan bagi banyak orang. Dengan pertimbangan efek samping yang lebih kecil, harga murah dan bahan baku mudah ditemukan, pengobatan “back to naturedipercaya sebagai jawaban bagi orang-orang yang memerlukan pengobatan secara terus menerus dan jangka panjang.

Menangkap peluang trend pengobatan back to nature, dirasa sudah saatnya dilakukan penelitian yang lebih konfrehensif dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu dari mulai antropologi, farmasi, kesehatan, pertanian, lingkungan dan ekonomi. Etik menambahkan, apabila peluang penelitian ini ditangkap, bisa menjadi jembatan penghubung antara kearifan lokal dan pengetahuan modern.

Dari wawancara perdukunan, obrolan dilanjutkan dengan pengalaman Abdul Hakim Lukman, tentang  pembelajaran menarik  di plot penelitian bambang lanang (Magnolia champaca)  yang mungkin akan membuat cemburu para pencinta burung. Pasalnya, salah satu burung mingran yang banyak ditemukan antara bulan November hingga April ini, seringkali terbang bebas berkeliaran di langit plot penelitiannya.

“Karena burung ini pemakan bji-bijian, kami menduga burung ini sebagai salah satu burung pemencar biji pohon bambang lanang”, kata Lukman.

Burung yang dimaksud Lukman adalah burung Anis Kuning. Burung ini merupakan salah satu dari keluarga Turdidae dan Genus Turdus. Memiliki nama ilmiah Turdus Obscurus atau Eyebrowed Thrush, burung ini memang kurang familiar di sebagian telinga para kicau mania, karena ia termasuk burung yang “susah bunyi”.  Suaranya memiliki kharakteristik tersendiri.

Anis kuning termasuk jenis burung ukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 21 sampai dengan 23 cm dan berat tubuh sekitar 61 sampai 117 gram. Bulunya berwarna kecoklatan dengan alis putih mencolok. Tubuh bagian atas coklat zaitun dengan kepala keabu-abuan lebih gelap dan alis masta putih, dadanya jingga, perut putih tersapu merah karat di sisi tubuh. Irisnya coklat, dasar paruhnya kuning dengan ujung hitam dan kaki kekuningan.  Burung ini juga disebut punglor kayu atau anis kening karena ada coretan putih pada kening atau di bagian atas matanya sehingga membentuk semacam alis.

Lukman beranggapan terciptanya hubungan yang harmonis ini tak lain karena adanya prinsip mutualisme diantara kedua mahluk itu. Burung anis kuning memperoleh sumber makanan dengan memakan biji bambang lanang, sedangkan bambang lanang dapat disebarkan populasinya oleh burung anis kuning ini.

 

“Sampai saat ini, masih sedikit literatur yang membahas mengapa burung anis kuning ini tertarik mengunjungi pohon bambang lanang ini. Apakah karena warna buah atau biji bambang lanang, nutrisi nya atau hal lain, masih menjadi teka-teki buat kami”, ujar Lukman.

 

Lukman berharap enigma ini akan menarik perhatian para kicau mania, sehingga kedepannya akan dilakukan penelitian lebih lanjut, misalnya penelitian terkait perilaku burung anis kuning terhadap penyebaran bambang lanang, perilaku konsumsinya,  tipologi lahan yang menjadi persebaran cara alami nya, maupun karakteristik dari  pohon bambang lanang yang bisa menjadi daya tarik burung anis kuning untuk mengunjunginya.

Tak jauh beda dengan pengalaman Lukman, kali ini Nanang Herdiana bercerita tentang temuannya selama penelitian di beberapa daerah hulu di Sumsel.  Di beberapa pasar kalangan di daerah, Nanang menemukan satu jenis buah yang cukup unik dan jarang bahkan hampir tidak pernah ditemukan di kota-kota besar, yaitu buah saninten atau barangan (Castanopsis argente Blumme).

Saninten atau barangan ini ternyata merupakan flora langka endemik di Indonesia. Tinggi pohon saninten bisa mencapai tinggi 35 hingga 40 meter dengan kulit batangnya berwarna hitam, kasar dan pecah-pecah dengan permukaan tidak rata. Banyak yang menyebutnya rambutan hutan, lantaran bentuknya persis rambutan. Tapi awas, bila tidak hati-hati mengupas atau mengigitnya seperti buah rambutan biasa, siap-siap saja untuk berdarah-darah karena rambut buah ini setajam jarum suntik.

Menurut Nanang, tanaman ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi namun tak dibarengi dengan upaya pengolahan yang dapat mengangkat dan meningkatkan potensi barangan itu sendiri. Masyarakat lokal di pedesaan biasanya hanya menjualnya di pasar kalangan atau mengambil bijinya untuk dikonsumsi langsung.

Diketahui, buah ini hanya berbuah dua tahun sekali. Pohon anakannya pun sulit didapat karena masa berbuahnya yang cukup lama, ditambah lagi persaingan dengan pemangsa lainnya, seperti monyet atau tupai yang juga mengkonsumsi bijinya.

“Belum banyak yang mengenal buah ini. Sayang sekali kalau tanaman penghasil HHBK yang mempunyai potensi ekonomi tinggi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal”, kata Nanang.

Nanang menambahkan untuk pengkayaan pengelolaan tanaman ini, diperlukan peran para pihak misalnya untuk pendampingan, pembinaan dan penyediaan IPTEK, baik dari institusi litbang, perguruan tinggi, KPH, NGO maupun instansi pemerintah terkait, misalnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Yang tak kalah menariknya lagi, seri pertama OPL memberikan segmen khusus bagi genereasi milineal yang ikutan menyimak acara ini. Di seri ini, kaum milineal yang akrab dan fasih akan kecanggihan teknologi, ditantang Agus Sumadi untuk mengutak-atik aplikasi perangkat budidaya bambang lanang yang dikembangkannya.

Aplikasi yang dibangun dengan program STELLA ini, memang sudah lama dikembangkan terutama untuk tegakan pohon di hutan alam yang berkaitan dengan dinamika struktur tegakan. Namun, untuk yang jenis lokal seperti tegakan bambang lanang belum pernah dibuat.

Menurut Agus Sumadi. tak perlu jadi ahli IT dulu untuk mengoperasikan aplikasi ini. Aplikasi ini tak menuntut penggunanya untuk memahami persamaan matematika, petumbuhan tegakan, site index ataupun analisis finansial pertumbuhan bambang lanang.  Aplikasi ini hanya membutuhkan informasi mengenai karakteristik lahan dan biaya pembangunan lahan saja, namun bila aplikasi ini berhasil dikembangkan hasilnya akan sangat membantu petani dalam mengembangkan budidaya bambang lanang terutama di daerah yang belum pernah ditanami jenis ini.

“Cukup dengan mengisi bagian input data, maka secara otomatis proyeksi pertumbuhan dan analisis finansialnya dapat dilihat, jadi bisa dikerjakan dengan mudah dan cepat ”, ujar Agus Sumadi.

Diakuinya, aplikasi dengan model buatannya ini belum lah model yang akurat dan yang tersusun baik sehingga belum bisa diterapkan baik untuk di lokasi Sumatera Selatan maupun di daerah lainnya. “Kita menyambut baik pihak-pihak mana pun yang bisa berkontribusi mengembangkan model yang sesuai, sehingga bisa diaplikasikan secara universal di semua daerah. Ini pastinya akan sangat membantu pengambil kebijakan dalam pengembangan tegakan bambang lanang kedepannya”, harapnya.

Dari seri pertama OPL ini, para zoomers bisa melihat bahwa ternyata dari satu kegiatan penelitian, banyak sekali fenomena-fenomena lainnya yang menarik, yang ternyata belum sempat disentuh dunia penelitian hingga diabaikan umum. Begitu pula dengan harmoni manusia dan alam, seringkali terganggu akibat dominansi cara berpikir dan tindakan yang sudah ada selama ini. Banyak potensi nilai-nilai, ilmu pengetahuan, dan cara-cara yg berpotensi memperbaiki harmoni manusia dan alam, namun masih terpendam

Untuk menyimak fenomena-fenomena menarik lainnya, jangan lewatkan OPL seri kedua yang akan mengupas tema harmoni manusia dan alam di dataran rendah pada hari Selasa, tanggal 6 Oktober 2020, dengan link pendaftaran https://bit.ly/OPLseri_2 (Fitri)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar