Berita ~ Focus Litbang

Jarang Diketahui, Ternyata Ini Manfaat Daun Salai

Sabtu, 4 Sep 2021 | 75

Jarang Diketahui, Ternyata Ini Manfaat Daun Salai

Balai Litbang LHK Palembang.__Kulit kayu salai (Glochidion Sericeum) sering dimanfaatkan masyarakat di Provinsi Lampung, khususnya di wilayah Pesisir Barat, untuk menyembuhkan berbagai macam keluhan sakit perut. Namun, tahukah kamu, ternyata daun salai mengandung antioksidan yaitu senyawa flavonoid, steroids, tannins, alkaloids dan saponins, yang dikenal ampuh sebagai obat diabetes dan obat kolesterol.

Hal ini diungkapkan tiga peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Etik Erna Wati Hadi, Asmaliyah dan Efendi Agus Waluyo dalam tulisan mereka yang terbit di IOP Conference Series: Earth and Environmental Science tahun 2020, berjudul Development prospect of Glochidion sericeum as herbal medicine from Sumatra forest.

Dikutip dari tulisan tersebut, dari uji analisis fitokimia, daun kayu salai mengandung senyawa aktif flavonoid (55,732%), steroid (0,922%), tannin (12,772%), alkaloid (0,824%) dan saponin (0,867%). Jenis senyawa flavonoid yang merupakan senyawa antioksidan diyakini mampu menghambat terjadinya penyakit degeneratif seperti diabetes melitus (DM). Selain itu, senyawa aktif saponin dan flavonoid yang berasal dari tanaman obat menunjukkan aktivitas anti-hiperlipidemia dengan menurunkan level TC, Tg, LDL dan VLDL serta mengurangi penyakit kardiovaskular.

Dijelaskan mereka, daun kayu salai memiliki potensi sebagai anti-diabetes (16,304%) dan anti-hiperlipidemia (38,08%). Namun persentase aktivitas antioksidan daun kayu salai lebih rendah dibandingkan aktivitas dari metformin (bahan antidiabetika oral). Potensi ini sebenarnya masih dapat ditingkatkan dengan menggunakan bahan baku tanaman yang lebih berkualitas. Berbanding terbalik dengan hal tersebut, dalam analisisnya mereka mengungkapkan bahwa potensi anti-hiperlipidemia dari daun kayu salai sangat bagus (38,08%) dibandingkan dengan bahan sintetik (simvastin=33,104%).

Pengujian pada penelitian ini dilakukan dengan mengambil daun kayu salai dari Desa Sukaraja, Kecamatan Ulu Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Daun kayu salai kemudian dibersihkan dan dikering-anginkan dalam keadaan gelap pada suhu kamar. Daun kayu salai yang telah kering kemudian dihaluskan menjadi bentuk bubuk atau tepung. Selanjutnya dilakukan ekstraksi sampel, skrining fitokimia dan uji aktivitas biologi yang meliputi uji anti-diabetes dan uji anti-hiperlipidemia.

Potensi khasiat tanaman obat kayu salai (Glochidion Sericeum) sebenarnya bukanlah cerita baru khususnya bagi masyarakat sekitar hutan di dataran Pulau Sumatera. Tumbuhan obat ini ternyata sudah dimanfaatkan masyarakat secara turun temurun dan diyakini berkhasiat mengobati penyakit. Namun masyarakat hanya memanfaatkan kulit kayu salai sehingga eksploitasi kulit kayu salai yang dilakukan masyarakat menyebabkan pohon-pohon yang ada merana dan akhirnya mati.

Besarnya potensi daun kayu salai (Glochidion sericeum) menambah daftar panjang banyaknya tumbuhan obat yang berkhasiat yang berasal dari hutan Indonesia. Oleh karena itu perlu didorong pengembangannya lebih lanjut melalui penelitian, pengujian dan pengembangan lebih lanjut agar secara medis dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih lagi, khasiat daun kayu salai sebagai anti-diabetes dimana diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyebab utama kematian manusia didunia.

Dalam tulisannya, ketiga peneliti ini menyatakan bahwa pada tahun 2015, Indonesia menempati urutan ketujuh dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia dimana penderita diabetes ini membutuhkan pengobatan sepanjang hidupnya untuk mengurangi gejala, mencegah progresivitas penyakit dan mencegah agar tidak berkembang ke arah komplikasinya.

Potensi daun kayu salai sebagai anti-hiperlipidemia juga tak kalah penting. Hiperlipidemia atau dalam istilah medis sering disebut sebagai kondisi kolesterol tinggi juga menjadi salah satu penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan stroke dan jantung koroner. Pengembangan tumbuhan obat secara umum, daun kayu salai secara khusus memiliki beberapa kelebihan. Seperti diungkap oleh ketiga penulis bahwa penggunaan obat-obatan sintetik tentu saja dapat menimbulkan efek samping pada tubuh dan juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Berdasarkan pernyataan beberapa ahli, diyakini bahwa dengan penggunaan yang tepat maka tanaman obat relatif tidak menimbulkan efek samping dibandingkan mengkonsumsi obat modern/sintesis. (EEWH, AS, LREM).

Hasil penelitian ini secara lengkap dapat dibaca di:

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/415/1/012005

Peneliti yang menulis karya ilmiah ini juga secara aktif meneliti mengenai topik-topik kehutanan. Untuk melihat secara rinci karya tulis yang telah dihasilkan, pengunjung dapat mengunjungi link yang tertera dibawah ini.

Link google scholar dan research gate:

Etik Erna Wati Hadi: https://scholar.google.co.id/citations?user=bmPSUIQAAAAJ&hl=en

https://www.researchgate.net/scientific-contributions/Etik-Erna-Wati-Hadi-2123357942 Asmaliyah: https://scholar.google.co.id/citations?user=-BJhjb4AAAAJ&hl=id

Efendi Agus Waluyo: https://scholar.google.com/citations?user=q7lo7ugAAAAJ&hl=en

https://www.researchgate.net/profile/Efendi-Agus-Waluyo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar