Berita ~ Focus Litbang

Indikator Pulihnya Lahan Pasca Tambang Timah

Senin, 6 Sep 2021 | 75

Indikator Pulihnya Lahan Pasca Tambang Timah

Balai Litbang LHK Palembang.__Salah satu indikator pulihnya lahan pasca kegiatan penambangan dapat dilihat dari kelimpahan Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) di lahan tersebut. Keberadaan FMA pada suksesi awal merupakan dari permulaan mekanisme kehidupan dalam suatu eksosistem, maka semakin tinggi kelimpahan FMA maka daya dukung fungsi FMA sebagai agen hayati yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman inang juga semakin tinggi.

Dikutip dari tulisan berjudul “Persistensi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) di Lahan Reklamasi Tambang Timah di Bangka” yang ditulis oleh peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Maliyana Ulfa, Imam Muslimin, Abdul Hakim Lukman, Purwanto, Kusdi Mulyadi dari BP2LHK Palembang dan Hanifah Khoirunnisa dari Jurusan Biologi, Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya, dikatakan bahwa keberadaan FMA merupakan indikator terbentuknya karakter lapisan seresah, sehingga mampu menjadi pendukung pemulihan kondisi pasca penambangan, yang terdegradasi karena berkurangnya lapisan tanah atas dan vegetasi, menurunnya keanekaragaman hayati tanah, sehingga menghasilkan kondisi lingkungan yang sangat ekstrem. Selain itu, FMA berfungsi untuk meningkatkan penyerapan dan ketersediaan unsur hara makro maupun mikro, meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekurangan air, serta meningkatkan kualitas tanah.

Tulisan yang diterbitkan di Prosiding Webinar Nasional Mikoriza 2020, Universitas Pertanian Lampung ini, melakukan penelitiannya di beberapa lahan bekas tambang timah yang telah direklamasi di Propinsi Bangka Belitung, yaitu di PT. RBT (mengalami masa bero selama lebih dari 10 tahun), reklamasi lahan tambang oleh BPDAS HL Baturasa Cerucuk (tidak dilakukan penimbunan) dan Reklamasi lahan tambang oleh KPHP Sungai Sembulan (penimbunan dlakukan satu bulan sebelum penanaman).

Di 3 lahan bekas tambang yang dianalisis tersebut, terdapat genus fungi mikoriza arbuskular (FMA) yang beragam, yaitu Acaulospora, Glomus, dan Gigaspora, dengan jumlah yang berbeda disetiap lokasi dan jenis tanaman inang.

Untuk spesifik masing-masing lokasi, pada areal reklamasi PT. RBT, secara total kelimpahan FMA terbanyak berturut-turut yaitu terdapat pada jenis tanaman Sengon, Simpur, Pulai, Pelawan dan Gelam. Lebih lanjut diungkapkan, bahwa jenis tanaman lokal yang tumbuh alami pada lahan bekas tambang sebenarnya telah mempunyai hubungan simbiosis secara alami dengan FMA. Dalam analisisnya mereka mengungkapkan bahwa, FMA melalui mekanisme mutualistik mendukung pertumbuhan tanaman terutama dalam kondisi biotik dan abiotik.

Lokasi reklamasi yang kedua yaitu di BPDAS HL Baturasa Cerucuk, kelimpahan FMA tertinggi ditemukan pada tanaman Cemara atau jauh lebih tinggi dibandingkan Kayu Putih, Mete dan Pulai. Kelimpahan FMA pada tanaman Cemara berhubungan dengan potensi daya dukung pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tanaman lainnya yang mana Cemara merupakan tanaman asli pesisir yang umumnya mempunyai unsur hara dan air yang miskin. Selain FMA, bakteri Frankia diduga turut mendukung pertumbuhan tanaman cemara di lokasi reklamasi.

Adapun di lokasi ketiga yaitu areal reklamasi KPHP Sungai Sembulan, keberadaan FMA terbanyak secara berturut-turut yaitu Hutan Alam, Mete-1, Mete-2, dan Mete-3. Dalam tulisan ini dijelaskan bahwa, kelimpahan FMA pada beberapa sampel tanaman mete di lahan reklamasi KPHP Sungai Sembulan mempunyai nilai rendah jika dibandingkan dengan kondisi FMA pada lokasi hutan alam. Hal ini karena kelimpahan FMA di hutan alam berada dalam kondisi ekologis yang seimbang.

Kegiatan penambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah berlangsung lama sejak era kolonial Belanda dan masih berlangsung hingga saat ini. Kegiatan penambangan timah yang tidak memperhatikan aspek ekosistem dan lingkungan berdampak terhadap banyaknya lahan-lahan terlantar dengan kondisi lanskap yang tidak beraturan, terjadinya degradasi lahan dan hilangnya keaneragaman hayati. Oleh karena itu, upaya reklamasi untuk memulihkan lahan bekas penambangan timah terus dilakukan. Namun upaya reklamasi yang telah dilakukan tidak semuanya berdampak nyata terhadap pemulihan lahan. (MU, IM, AHL, PUR, KM, LREM).

Hasil penelitian ini secara lengkap dapat dibaca di:

https://fp.unila.ac.id/wp-content/uploads/2021/05/Prosiding-Lengkap-Seminar-Nasional-Mikoriza-2020.pdf

Peneliti yang menulis karya ilmiah ini juga secara aktif meneliti mengenai topik-topik kehutanan. Untuk melihat secara rinci karya tulis yang telah dihasilkan, pengunjung dapat mengunjungi link yang tertera dibawah ini.

Maliyana Ulfa: https://scholar.google.co.id/citations?user=qiuyOQgAAAAJ&hl=en

https://www.researchgate.net/profile/Maliyana-Ulfa

Imam Muslimin: https://scholar.google.co.id/citations?user=gFhyaEQAAAAJ&hl=id

https://www.researchgate.net/profile/Imam-Muslimin

Abdul Hakim Lukman: https://scholar.google.co.id/citations?user=s21J1A0AAAAJ&hl=id

https://www.researchgate.net/profile/Abdul-Lukman

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar