Berita ~ Focus Litbang

Ekosistem Hutan Lindung Gambut Londerang Jambi Menuju Jalan Pemulihan

Kamis, 9 Sep 2021 | 13

Ekosistem Hutan Lindung Gambut Londerang Jambi Menuju Jalan Pemulihan

Hutan Lindung Gambut (HLG) Londerang yang terletak di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi satu dekade terakhir mengalami degradasi hebat. Kebakaran berulang pada areal seluas 12.848 hektar ini menghabiskan jenis-jenis pohon lokal gambut.

Berdasarkan laporan Wetland International Indonesia Program, kebakaran besar pertama terjadi pada tahun 1997/1998. Saat itu, api menghanguskan 95% area HLG. Citra satelit tahun 2002, 2008, 2013 dan 2015 menunjukkan terjadi suksesi alamiah pada areal bekas terbakar. Namun, kebakaran tahun 2015 kembali melenyapkan semua vegetasi. Situasi pemulihan ekosistem gambut kemudian memburuk pada saat kebakaran tahun 2019.

“HLG Londerang saat ini didominasi oleh vegetasi strata pohon Acacia mangium dan Acacia crassicarpa. Jenis pohon lokal hanya ada pulai, itu pun sangat sedikit”, demikian laporan Ir. Bastoni, M.Si yang memimpin tim dari Balai Litbang LHK Palembang, untuk melakukan survei lapangan rencana revegetasi. “Kebakaran tahun 2015 sangat besar dan parah, terbukti masih bisa dijumpai batang dan akar pohon Acacia mangium yang tumbang berserakan”, jelas Pak Bastoni ketika ditemui di lokasi calon areal revegetasi Distrik 7, pada Selasa tanggal 31 Agustus 2021. Sementara, selain mengalami kelangkaan jenis pohon lokal gambut, vegetasi bawah juga didominasi oleh jenis pakis dan rumput, terutama pakis tanah (Nephrolepis exaltata).

HLG Londerang kini, tahun 2021, memang berbeda situasinya dengan dulu, tahun 1990-an. Sejak mengalami kebakaran berulang yang diikuti suksesi alami yang makin lambat, ekosistem gambut ini makin menurun fungsinya. Sebagai kawasan hutan dengan fungsi lindung; perlindungan dan keseimbangan tata air, penyimpan cadangan karbon, dan pelestarian keanekaragaman hayati, HLG Londerang memiliki nilai esensial tinggi bila tidak dalam keadaan rusak. Lantas, siapakah yang dapat membantu mempercepat pemulihan ekosistem ini? Bagaimanakah caranya? 

Kerjasama KLHK-Korea Forestry Service

            Kawasan hutan lindung gambut yang dikelilingi lima konsesi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri, serta menopang sepuluh desa-desa sekitarnya ini butuh segera direstorasi. Sebagai respon terhadap kebakaran besar yang terjadi pada tahun 2015, Korea Forest Service (KFS) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) Republik Indonesia sepakat melaksanakan proyek restorasi gambut untuk HLG Londerang, tahun 2019-2022. Beberapa masalah terkait apa yang diharus dilakukan di lapangan dan bagaimana melakukannya, ditambah masa pandemi Covid-19, menyebabkan kerja sama  tertunda. Awal tahun 2021 menjadi titik cerah untuk mewujudkan niat baik itu.

            Secara operasional, proyek kerja sama restorasi HLG Londerang dilaksanakan oleh Korea Indonesia Forest Centre (KIFC) dan Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut (PKG). Kerja sama ini kemudian menggandeng Balai Litbang LHK Palembang untuk melakukan survei lapangan dan menyusun rencana teknis revegetasi untuk areal seluas 200 hektar.

            “Kami sangat berterima kasih kepada tim dari Balai Litbang LHK Palembang, yang membuat proyek kerja sama ini akhirnya bisa kita implementasikan”, ujar Mr. Lee Sung-gil dalam diskusi santai di Kota jambi, 31 Agustus 2021. “Saya mendapat laporan dan melihat langsung bahwa tim survei bekerja sangat baik, bertanggung jawab dan sesuai dengan rencana”, kilas Mr Lee. Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Bayu Subekti, S.IP., M.Hum ikut mengawal dan memonitoring kerja survei lapangan menjelaskan bahwa institusinya memiliki pengalaman panjang dalam merehablitasi lahan gambut.

“Saat ini, kami sedang bekerja di beberapa lokasi rehabilitasi-revegetasi gambut; Kabupaten OKI dan Banyuasin. Kami sangat senang bisa bekerja sama dan berkontribusi untuk pemulihan HLG Londerang. Kami memiliki peneliti-peneliti yang fokus pada upaya-upaya rehabilitasi lahan, termasuk gambut, dengan beragam bidang kepakaran”, demikian jelas Pak Bayu kepada Mr Lee dan Mr Kim dari KIFC.

            “Kami bekerja secara marathon selama 12 hari di lapangan untuk memahami situasi lahan gambut HLG Londerang. Tim kami tidak hanya menggunakan pendekatan klasik survei lapang, seperti mengukur karakteristik gambut, potensi flora, dan faktor sosial ekonomi lokal, kami juga melengkapi dengan pembacaan data drone”, Bastoni melaporkan progress kerja tim-nya bersemangat. “Setiap tapak lahan gambut memiliki karakteristik unik, sehingga harus dipelajari secara langsung untuk dapat merencanakan kerja revegetasi-nya”, tambah Bastoni. Kerja survei lapangan ini telah membuka jalan pemulihan HLG Londerang.

Bukan sekedar Revegetasi

            Data dan informasi hasil survei lapangan berguna untuk menyusun rancangan teknis revegetasi. Namun demikian, aktivitas revegetasi lahan gambut bukanlah sekedar menanam dengan pohon-pohon jenis lokal saja. Rencana revegetasi yang baik harus memasukkan dan mempertimbangkan pengelolaan lanskap. Edwin Martin, peneliti Sosiologi Lingkungan yang menjadi salah seorang anggota tim monitoring dan evaluasi kegiatan survei lapangan memberi beberapa input kepada tim.

            “Ingat bahwa masalah utama HLG Londerang adalah kebakaran berulang. Kebakaran di Indonesia selalu berawal dari ulah manusia. Revegetasi adalah salah satu bagian dari usaha pemulihan secara biofisik-ekologis. Upaya ini akan berdampak dan berhasil dalam jangka panjang untuk memulihkan ekosistem bila aspek manusia juga terintegrasi dan terkelola. Sekilas saja terlihat bahwa jenis-jenis lokal yang ditengarai sebagai pohon sialang masih bisa dijumpai di areal konsesi HTI yang bersebelahan dengan HLG Londerang. Karenanya, areal revegetasi harus memiliki subjek pengelola pada tataran nyata di lapangan”, ujar Edwin Martin saat mengunjungi tapak calon areal revegetasi, 31 Agustus 2021. Pendekatan integratif sistem sosial-ekologi dan transdisiplin adalah kunci agar jalan menuju pemulihan HLG Londerang menjadi terang benderang. (Edwin Martin, Bayu Subekti, Anita TL Silalahi)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar