Berita ~ Terbaru

Demplot Revegetasi: Legacy Balai Litbang LHK Palembang untuk Provinsi Sumsel

Kamis, 27 Mei 2021 | 92

Demplot Revegetasi: Legacy Balai Litbang LHK Palembang untuk Provinsi Sumsel

Balai Litbang LHK Palembang.__Kegiatan pemeliharaan tahun kedua demplot revegetasi areal gambut bekas terbakar di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Pedamaran seluas 50 hektar yang berada di Desa Pulau Geronggang Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan yang termasuk dalam KHG Sungai Burnai – Sungai Sibumbung, akan segera dilakukan setelah dokumen kerjasama antara Kepala UPTD KPH Wilayah V Lempuing Mesuji, Susilo Hartono dengan Plt. Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Erwin, ditandatangani hari ini (25/5/2021). Penandatangan dokumen kerjasama ini dilakukan di kantor Kepala UPTD KPH Wilayah V Lempuing Mesuji. Hadir sebagai saksi Kabid Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Sutomo dan Tim Restorasi Gambut Provinsi Sumatera Selatan, Eko Agus Sugianto dan tim.

Dalam penandatangan ini, Kepala Balai Litbang LHK Palembang, berharap kegiatan pemeliharaan di tahun kedua ini juga akan berhasil dengan baik yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dan daya tahan tanaman yang maksimal sebelum demplot revegetasi di areal bekas terbakar ini diserahkan ke pengampu wilayahnya, KPH Wilayah V Lempuing Mesuji. “Ini akan menjadi salah satu hasil kerja nyata kami dalam mendukung program restorasi gambut nasional sekaligus sebagai legacy Balai kami untuk Provinsi Sumatera Selatan”, ungkapnya.

Senada, Kabid Rehabilitasi Hutan dan Lahan, Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Sutomo juga berharap demplot revegetasi ini akan menjadi salah satu cerita keberhasilan Provinsi Sumsel dalam merevegetasi areal gambut bekas terbakar. “Demplot ini cocok dijadikan show window revegetasi gambut. Lokasinya cukup dekat dengan kota Palembang, strategis kalau untuk mengundang tamu datang” ujarnya.

Demplot revegetasi ini dibangun pada tahun 2019. Arealnya dikategorikan sebagai gambut dalam (bila diukur dengan pipa besi 4 m belum sampai mineral), dengan kematangan gambut umumnya antara setengah matang (hemist) – matang (saprist) dengan ciri air perasan gambut berwarna coklat. Sebelumnya sebagian areal ini merupakan lahan terbuka/tanah kosong, semak belukar (kumpai) dan sebagian areal ditemukan tegakan anakan alami berupa gelam dan pulai, khusus pulai ditemukan dengan jumlah yang sangat sedikit (satu atau dua pohon).

Di tahun pertama penanaman, dipilih jenis-jenis tanaman yang selama ini telah terbukti mempunyai kemampuan tumbuh secara baik pada lahan rawa gambut. Selain mempunyai kemampuan tumbuh yang baik, jenis-jenis ini juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, yaitu Belangeran (Shorea balangeran), Jelutung rawa (Dyera lowii), Nyatoh (Palaquium sp) dan Bintangur (Callophyllum sp). Namun, dalam evaluasi kegiatan pemeliharaan tahun 2020, tim evaluasi merekomendasikan hanya jenis Belangeran (Shorea balangeran) dan Jelutung rawa (Dyera lowii) yang digunakan untuk penyulaman karena mempunyai prosentase tumbuh tinggi dan mampu beradaptasi dengan kondisi / karakteristik lokasi revegetasi.

Kegiatan penanaman ini pun tak lepas dari berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi. Beberapa kendala yang ditemui di tahun pertama penanaman antara lain, singkatnya waktu pelaksanaan, musim kemarau yang relatif panjang sehingga waktu penanaman relatif singkat, dan adanya kebakaran yang terjadi di sekitar lokasi. 

Sedangkan hambatan yang ditemui di lapangan antara lain, karakter lahan gambut yang mengandung akar tumbuhan pakis, sehingga  diperlukan waktu yang cukup lama untuk membuang akarnya dan menggantinya dengan media (tanah gambut) yang lain, banyaknya bagian yang keropong atau kosong di bawah permukaan lahan, sehingga diperlukan pengisian dan pemadatan media tanaman (gambut) pada lubang tanam, permukaan lahan yang tidak rata sehingga cukup banyak lubang tanam yang harus ditimbun (diisi) dengan media gambut yang diambil dari tempat sekitarnya, genangan air pada musim hujan dengan kedalaman yang bervariasi antar tempat yang berdekatan dan dengan durasi yang belum diketahui juga akan mempengaruhi daya hidup tanaman, pemahaman yang relatif minim terkait kondisi dan karakter lahan gambut oleh para pekerja (training pengenalan lahan gambut dan pelatihan/praktek penanaman), disiplin yang kurang dari para pekerja (beberapa kali ganti personil pekerja sehingga banyak yang tidak/kurang paham tentang lahan gambut), gangguan hama (babi) yang merusak tanaman, sehingga tanaman harus disulam atau diganti, serta pertumbuhan gulma yang sangat cepat.

Kegiatan pembangunan demplot dan penanaman ini, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pemeliharaan di tahun 2020. Hasil evaluasi kegiatan pemeliharaan tahun pertama ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi, yaitu persentase tumbuh berkisar 45,93% atau 55.000 tanaman tumbuh dengan baik, atau bila di rata-rata ada 505 batang per hektar. (Fitri).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar