Berita ~ Focus Litbang

DEMPLOT PELAWAN DI KHDTK KEMAMPO DIJADIKAN SUMBER BENIH BANYAK PIHAK

Rabu, 1 Sep 2021 | 24

DEMPLOT PELAWAN DI KHDTK KEMAMPO DIJADIKAN SUMBER BENIH BANYAK PIHAK

Balai Litbang LHK Palembang__ 714 tanaman pelawan (Tristaniopsis merguensis) yang ditanam April 2016 seluas 0,6 hektar di KHDTK Kemampo, telah tumbuh baik secara vegetatif maupun generatif. Produktifitasnya kini telah mencapai tinggi rata-rata 6,7 m dengan diameter rata-rata 6,6 cm. Di usianya yang ke 5 tahun tersebut, hampir semua tanaman kayu ini telah berbuah sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber benih.

Salah satu instansi yang telah memanfaatkannya di tahun 2021 ini adalah Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Sumatera. BPTH Sumatera menggunakan jenis ini sebagai salah satu famili sumber benih untuk membangun tegakan benih pelawan dalam skala yang lebih luas.  Selain itu, benih dari demplot pelawan ini juga digunakan Balai Litbang LHK Palembang untuk kegiatan Prioritas Nasional (Prinas).

Sumber benih pelawan dapat diperoleh dengan cara mengecambahkan buah atau biji pelawan yang diperoleh dengan cara mengunduh buah dari tanaman, atau dapat pula dengan menggunakan cabutan yang terdapat di permukaan tanah dibawah tanaman induk.

Benih yang digunakan di demplot ini berasal dari pohon induk yang terdapat di Hutan Wisata Pelawan di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pembangunan demplot pelawan ini dimaksudkan untuk mempromosikan teknik budidaya dan pemanfaatan kayu pelawan dengan sistem pangkas trubus (coppice system) untuk menghasilkan kayu energi secara lestari.

Sejalan dengan pemanfaatan tanaman pelawan yang semakin luas, banyak pihak yang mulai tertarik untuk mengembangkan jenis tanaman pelawan. Kebutuhan akan sumber benih yang berkualitas kini semakin dicari baik oleh lembaga-lembaga penelitian, pemerintah daerah maupun perguruan tinggi. Oleh karena itu, demplot kayu pelawan di KHDTK Kemampo yang dikelola Balai Litbang LHK Palembang ini dapat digunakan sebagai salah satu alternatif sumber benih yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Pelawan dapat digunakan sebagai sumber bahan pangan (bahan baku minuman kesehatan), obat, dan pestisida nabati. Dalam hal ini bagian pelawan yang dimanfaatkan tidak hanya batang, tetapi juga daun dan kulit batang. Daun pelawan dapat digunakan sebagai bahan baku obat karena mengandung senyawa-senyawa penting seperti senyawa flavonoid, tannin, saponin, steroid, dan dan triterpenoid. Sementara itu pada habitat alaminya, khususnya di Pulau Bangka, tegakan alami pelawan merupakan habitat alami lebah madu (Apis dorsata) dan sebagai inang jamur pangan (Heimioporus sp).

Di Sumatera Selatan, kayu pelawan dimanfaatkan sebagai bahan baku arang pelawan yang merupakan salah satu komoditas ekspor. Sayangnya, bahan baku untuk produksi arang tersebut diperoleh dengan cara melakukan eksploitasi kayu pelawan pada sebaran alaminya, yang salah satunya terdapat di Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Bila eksploitasi terus dilakukan tanpa melakukan kegiatan budidaya, bukan tak mungkin ketersediaan bahan baku kayu pelawan akan semakin terbatas. (Hengki, Fitri).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar