Berita ~ Terbaru

Dampak Kebakaran dan Hutan Tertinggi di 2015 Ada di Kabupaten OKI

Rabu, 16 Jun 2021 | 63

Dampak Kebakaran dan Hutan Tertinggi di 2015 Ada di Kabupaten OKI

Balai Litbang LHK Palembang.__Tahukah kamu wilayah mana di Provinsi Sumsel yang memiliki dampak kebakaran hutan dan lahan tertinggi pada tahun 2015?. Dirangkum dari tulisan yang terbit di Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana (JPKS) Vol. 2. No. 1. April 2021, ternyata Kabupaten Ogan Komering Ilir khususnya di bagian selatan yang menjadi daerah yang paling signifikan mengalami kebakaran hutan maupun lahan mulai dari tigkat rendah sampai tingkat tinggi. Hal ini terlihat dari nilai KBDI (Keetch-Byram Drought Index) yang berada pada tingkat ekstrim dan memiliki banyak jumlah titik panas terutama pada bulan Oktober tahun 2015.

Analisa ini dilakukan oleh Rezfiko Agdialta dan Dara Kasihairani dari Stasiun Klimatologi Palembang beserta Wenas Ganda Kurnia dari Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Palu dalam tulisan yang berjudul Identifikasi Wilayah Dampak Kebakaran Hutan Dan Lahan Tertinggi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2015 Menggunakan Citra Satelit Landsat-8 (Area Identification with The Highest Forest Fire Impact in South Sumatera In 2015 Using LANDSAT-8 Satellite Image).

Penelitian mereka menggunakan data iklim periode 10 tahun terakhir, mulai dari tahun 2006 hingga tahun 2015, yang didapatkan dari jaringan pos pengamatan hujan dan Stasiun Klimatologi Palembang - BMKG Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Pos Hujan Kayu Agung di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Pos Hujan Muaradua di Kabupaten OKU Selatan, Pos Hujan Raksa Jiwa di Kabupaten OKU Timur, Pos Hujan Gunung Dempo di Kota Pagar Alam, Pos Hujan Muara Enim di Kabupaten Muara Enim, Pos Hujan Sekayu di Kabupaten Musi Banyuasin, Pos Hujan Srikaton di Kabupaten Musi Rawas, dan Pos Hujan Srikaton di Kabupaten Banyuasin. Data tersebut berupa data curah hujan harian dan suhu maksimum pada tahun 2015.

Dalam analisa mereka dinyatakan bahwa nilai KBDI tinggi mulai terjadi pada bulan Juni. Rata-rata nilai KBDI harian pada tahun 2015 di Gunung Dempo, Kayu Agung, Muara Dua, Raksa Jiwa, dan Srikaton periode Januari hingga Mei berada pada tingkat rendah - tinggi. Sebagian wilayah dengan nilai KBDI dengan tingkat ekstrim terdeteksi lebih awal berada di Pos Hujan Muara Enim, Pos Hujan Sekayu, Stasiun Klimatologi Palembang dan pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober nilai KBDI berada pada tingkat tinggi hingga ekstrim. Bulan dengan tingkat KBDI tertinggi berada pada bulan September - Oktober.

Pada bulan Oktober 2015 hampir di semua wilayah nilai KBDI berada pada tingkat ekstrim. Nilai KBDI yang berada pada tingkat tinggi mengindikasikan bahwa pada bulan ini vegetasi mudah terbakar, api kecil cepat merambat dan menjadi kebakaran besar yang tidak dapat dikendalikan. Sedangkan nilai KBDI yang berada pada tingkat ekstrim menunjukan bahwa di wilayah penelitian tersebut vegetasi sangat mudah terbakar dan sudah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Dikutip dalam tulisan ini, jumlah titik panas sebagai indikasi kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan terendah terjadi pada bulan Januari 2015, sedangkan pada bulan Oktober terlihat bahwa ada 11.977 titik panas yang terdeteksi.

Data jumlah titik api ini berbanding lurus dengan nilai KBDI. Pola spasial KBDI pada bulan Oktober tahun 2015 menunjukkan bahwa hampir di semua kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Selatan mengalami kekeringan dengan tingkat tinggi hingga ekstrim.

Setelah mereka melakukan overlay terhadap data titik panas, dapat disimpulkan bahwa wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak dengan nilai tertinggi pada kejadian kebakaran hutan dan lahan berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir. (Fitri).

Tulisan ini selengkapnya dapat dibaca di http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPKS/article/view/4774/5344#

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar