Berita ~ Fokus Litbang

7 Jenis Potensial Alternatif Penghasil Kayu Energi di Sumatera Selatan

Jumat, 3 Apr 2020 | 244

7 Jenis Potensial Alternatif Penghasil Kayu Energi di Sumatera Selatan

BP2LHK Palembang__ Industri skala kecil seperti industri gamping, tahu tempe, pembuatan batu bata dan genteng di Sumatera Selatan menggantungkan bahan bakarnya dari kayu karet. Namun, seiring pertumbuhan industri papan partikel yang juga menggunakan kayu karet sebagai bahan bakunya, pasokan kayu ini semakin berkurang. Bila pasokan akan kayu ini tidak terpenuhi, industri skala kecil ini lama-lama akan gulung tikar ataupun mati suri.

Ketergantungan masyarakat akan energi fosil yang tak terbarukan ini, menjadi pemicu dipromosikannya pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi lainnya yang akan menjadi pengganti energi fosil. Di tingkat global, trend pemanfaatan energi yang lebih hijau, lebih bersih, dan terdesentralisasi ini banyak digaungkan dan disambut baik penggunaannya karena akan mendorong terjadinya regenerasi hutan alam, menurunnya laju deforestrasi, dan mempertahankan tutupan hutan, serta pengembangan manajemen hutan yang intensif serta peningkatan efisiensi pemanfaatan lahan kosong dan lahan pertanian.

Di Indonesia sendiri pengembangan energi biomassa untuk pemenuhan kebutuhan energi alternatif sebagai sumber energi sudah banyak diterapkan. Misalnya PT. Indocement Tunggal Perkasa yang mengembangkan tanaman jarak, PT. Semen Padang yang memanfaatkan tandan buah kosong kelapa sawit dan PT, Holcim yang mengembangkan jenis-jeis weru, lamtoro, sengon, buto, gamal, trembesi, gmelina dan angsana.

 Salah satu kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah Indonesia dalam pengembangan bioenergi adalah peningkatan peran bioenergi dalam bauran energi nasional. Pengembangan energi baru dan terbarukan ini, diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia akan energi fosil guna mencapai kedaulatan energi nasional serta secara langsung membantu pemerintah Indonesia dalam upaya mencapai target penurunan emisi efek rumah kaca.  

 Walaupun demikian, dalam pelaksanaannya juga masih terdapat terkendala.  Salah satu faktor penghambat pengembangan energi biomassa di Indonesia adalah lemahnya tingkat kompetisinya secara ekonomi dengan energi fosil. Selain itu, minimnya penyediaan infrastruktur dan teknologi pengolah juga menjadi tantangan lainnya. Oleh karena itu,  pengembangan energi biomassa perlu didukung oleh kebijakan pemerintah melalui regulasi yang relevan.

 “Penggunaan energi biomassa diperkirakan akan menjadi sumber utama energi terbarukan selama beberapa dekade sebelum sumber energi terbarukan lainnya seperti energi angin dan energi matahari berkembang lebih luas’ kata Hengki Siahaan, peneliti Balai Litbang LHK Palembang. Menurutnya, potensi pengembangan biomassa khususnya di Sumatera Selatan sangat besar. Kawasan hutan serta lahan kritis yang terlantar di Sumatera Selatan mencapai 312.864 ha, dan ini bisa dimanfaatkan untuk dibangun sebagai sumber energi biomassa.

“Sebenarnya semua jenis kayu bisa dijadikan bahan bakar, tapi harus juga dipertimbangkan nilai kalor, tingkat pertumbuhan dan juga adaptasinya kalau ingin dikembangkan sebagai kayu energi”, ujar Hengki Siahaan, peneliti Balai Litbang LHK Palembang. Berdasarkan kriteria-kriteria ini, telah ada beberapa jenis kayu energi yang dikembangkan di Indonesia, seperti kaliandra, lamtoro, pilang, akor, turi, gamal dan weru. Jenis-jenis ini mempunyai nilai kalor yang relatif tinggi, pertumbuhan yang cepat, menghasilkan trubusan dengan cepat, dan mempunyai adaptasi yang baik terutama di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Namun, Hengki menambahkan tidak semua jenis kayu yang memiliki produktivitas yang tinggi di Jawa dapat dikembangkan di Sumatera. Dari hasil pengamatan yang dilakukannya tahun 2015, menurutnya ada 7 jenis kayu lokal di Sumatera Selatan yang sangat potensial dikembangkan sebagai kayu energi, yaitu lamtoro (Leucaena leucocepala), kayu pelawan (Tristaniopsis obovata), kayu laban (Vitex pubescens), kayu talok (Microcos tomentosa), kayu seru (Schima wallichi), kayu plangas (Aporosa nervosa), dan kayu betih (Decaspermum humile).  

Kecuali lamtoro, keenam jenis kayu tersebut telah dikembangkan di demplot seluas 4 ha di KHDT Kemampo sejak tahun 2016.  “Hasil uji pertunasan dan penanaman, kayu-kayu jenis lokal ini mempunyai produktivitas tunas yang tinggi, adaptif dan mudah dikembangkan dengan sistem pangkas”, terang Hengki.

Budidaya jenis-jenis kayu energi ini, dilakukan secara generatif melalui pengecambahan biji atau menggunakan anakan alam di bawah tegakan induk. Penanamannya dilakukan setelah bibit dipelihara di persemaian selama 6 bulan dengan jarak tanam yang bervariasi,, yaitu 2 m x 1 m; 2 m x 1,5 m; 1,5 m x 1,5 m, dan 1,5 m x 1 m. Ini dimaksudkan untuk mengetahui jarak tanam yang paling efektif dalam pengembangan masing-masing jenis kayu energi.

Secara periodik, tanaman-tanaman ini diukur untuk mengetahui pertumbuhannya masing-masing, dan pengujiannya dilakukan dengan menghitung tingginya nilai kalor, berat jenis, dan kemampuan bertunas ketika dipangkas. Dari keenam jenis tersebut, yang mempunyai nilai kalor yang relatif sama adalah kayu seru dan kayu laban, yaitu berkisar antara 4356 dan 4302 Kcal/kg. Sedangkan berat jenis untuk keenam jenis kayu tersebut umumnya tergolong sedang berkisar antara 0,58 sampai 0,67 kg/cm3, kecuali untuk jenis pelawan dengan berat jenis mencapai 1,18 kg/cm3. Kemampuan bertunas untuk keenam jenis ini sama-sama tinggi.

Selain itu, Hengki juga mengingatkan pemangkasan (coppicing) juga merupakan hal terpenting lainnya yang perlu diperhatikan untuk memperoleh kayu energi dengan produktivitas yang tinggi. Pemangkasan pada batang atau cabang utama dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pertumbuhan tanaman. “Kita menggunakan sistem pangkas-tunas (coppice system) untuk mempercepat daur pemanenan, sehingga mana jenis kayu energi yang layak dikembangkan akan cepat kita ketahui”, terang Hengki.

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar