Berita ~ Terbaru

5 Tumbuhan Yang Kerap Dijadikan Obat Penyakit Degeneratif

Rabu, 2 Jun 2021 | 116

5 Tumbuhan Yang Kerap Dijadikan Obat Penyakit Degeneratif

Balai Litbang LHK Palembang.__Sebelum menggunakan obat dokter, masyarakat Indonesia terlebih dahulu mengenal tumbuhan obat. Tak kurang dari 30.000 jenis tumbuhan di Indonesia dikategorikan sebagai tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai obat. Lima jenis diantaranya berpotensi sebagai terapi alternatif penyakit degeneratif. Secara tradisional, kelima jenis ini sering digunakan untuk pengobatan penyakit degeneratif baik di Indonesia maupun diluar negeri dan secara ilmiah terbukti mempunyai aktivitas sebagai anti penyakit degeneratif. Lantas, apa saja kelima jenis tumbuhan yang kerap dijadikan obat penyakit degeneratif itu?

  1. Kapung (Oroxylum indicum)

Pohon in bisa dikenali dari buahnya yang berwarna coklat dan berbentuk seperti kapsul (polong besar) yang menggantung turun dari cabang telanjang, dan mirip seperti sayap burung atau pedang kesatria, dengan  panjang 0,33-1m dan lebar 5-10 cm. Bijinya sangat banyak, datar dan bersayap. Kapung merupakan pohon kecil atau menengah dengan tinggi mencapai 12 m, batang tegak, berkayu, warna hijau kotor atau coklat keabu-abuan. Daun majemuknya berbentuk lonjong, dengan ujung yang runcing, pangkal tumpul, warna hijau, dan ukuran panjang ± 12 cm, dan lebar 8 cm. Bunganya bersifat majemuk dengan warna ungu kemerahan dibagian luar dan kuning pucat di bagian dalam, kelopaknya berbentuk tabung, sedangkan mahkotanya berbentuk terompet.

Tumbuhan ini sering dimanfaatkan untuk pengobatan penyakit kuning, sesak nafas, rematik, hipertensi dan diabetes. Untuk terapi penyakit sesak nafas, daun kapung diolah bersama dengan daun jengkol, daun kabau dan daun medang tanduk secukupnya. Daun-daun ini kemudian, dicincang sampai cukup halus, kemudian ditambahkan tanah pematang tebat, diaduk sampai tercampur sempurna, kemudian tempelkan kebagian dada atau kebagian yang sakit. Lakukan pengobatan ini berulang sampai sembuh atau ketika penyakit kambuh.

  1. Pelawan (Tristaniopsis merquensis)

Tumbuhan Pelawan merah ini merupakan pohon endemik dari Kepulauan Bangka Belitung yang termasuk anggota dari famili Myrtaceae. Sesuai dengan namanya, batang tumbuhan ini berwarna merah dengan bagian kulit luar yang mengelupas. Daunnya berbentuk bulat telur sampai jorong. Ujung daunnya tumpul sampai membulat, sedangkan pangkal daunnya meruncing kearah tangkai daun, duduk daun berseling, dan tangkai daun bersayap. Panjang daun berkisar antara 10 cm - 15 cm dan lebar 3 cm- 5 cm. Permukaan daun kasar, tidak berambut. Bunganya berciri majemuk, padat dan putih, sedangkan buahnya berbentuk kapsul dengan 3 lokus

Pelawan merah ini diketahui bisa menjadi terapi berbagai macam penyakit degeneratif, diantaranya diabetes, kolesterol, darah tinggi, stroke, dan maag. Untuk pengobatan, pasien bisa memakan daunnya secara langsung, atau mengambil air rebusan daunnya yang dibuat dari 3 gelas hingga tersisa menjadi 1 gelas. Selain itu, daun pelawan juga bisa dikeringkan dan dijadikan serbuk. Yang perlu diingat, dosis per hari tidak boleh melebihi 600 ml.

  1. Kayu salai (Glochidion sericeum)

Kayu salai merupakan tumbuhan semak atau pohon kecil dengan tinggi mencapai 8 m dan diamter 14 cm. Daunnya berbentuk segitiga sampai bulat telur, dengan ukuran 0,8-3,4 cm. Kayu salai mempunyai daun penumpu dengan panjang 1,5 mm, letak daunnya berseling, sederhana, permukaan bawah daun berbulu atau berambut dan berwarna keputihan, mempunyai tangkai daun dengan panjang 2,5-3 mm.

Diameter bunga sekitar 2,5 mm, berwarna keputihan, dan mempunyai tangkai daun dengan ukuran 3-3,5 mm yang bertempat diketiak daun. Buahnya berbentuk bulat, dengan panjang 3 mm, berwarna merah muda sampai merah, berbulu rapat, sedangkan bijinya  berwarna merah cerah, dengan ukuran 2-3 mm

Biasanya, masyarakat lokal Lampung Pesisir memanfaatkan kulit batang kayu salai untuk pengobatan penyakit maag. Cukup dengan merebus 1 jengkal kulit batang kayu dengan 3 gelas air sampai berkurang menjadi sekitar 1 gelas, lalu diminum.

  1. Medang sahang (Cinnamomum parthenoxylon)

Tumbuhan satu ini bisa mencapai sampai 45m dengan diameter mencapai 105 cm. Ciri lainnya, batangnya berbentuk bundar dan lurus, tidak berbanir, kulit batang beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil, berwarna abu-abu keperakan dan berbau harum. Daunnya tunggal, berseling, berwarna hijau, mempunyai pucuk daun berwarna coklat kemerahan dan memiliki bau harum. Buahnya berbentuk bulat, berwarna hijau ketika muda dan berwarna kehitaman saat masak

Medang sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk terapi penyakit ambeian dan perut kembung. Yang dimanfaatkan adalah akarnya yang dicincang, dikeringkan kemudian direbus dengan 3 gelas air ditambah sedikit garam sampai menjadi 2 gelas, lalu diminum selagi hangat sebanyak 3 kali sehari.

  1. Bungur (Lagerstroemia speciosa (L) Press)

Bungur juga termasuk pohon tinggi, bisa mencapai 20-25 m. Batangnya berbentuk bulat, berwarna coklat krem atau abu-abu dengan permukaan licin atau halus, serta kulit batang yang tipis. Daunnya tunggal, bertangkai pendek, berbentuk bulat telur atau memanjang, dengan ukuran panjang sekitar 11-26 cm dan lebar sekitar 7-12 cm. Daunnya berwarna hijau tua sampai coklat kekuningan. Daun dewasanya licin atau halus, sedangkan daun tuanya berwarna merah jingga. Bunga majemuk, berwarna merah muda cerah atau ungu.  Buahnya berbentuk bulat (globose), berwarna hijau jika masih muda dan coklat jika sudah masak. Biji cukupnya besar, berbentuk pipih dengan ujung bersayap seperti pisau, serta  berwarna coklat kehitaman.

Bungur dimanfaatkan sebagai obat penyakit kencing manis, darah tinggi, dan rematik. Ada dua cara pengolahan untuk terapi penyakit kencing manis. Yang pertama, ambil 8 gram daun bungur segar ditambah 9 gram biji kacang hijau, kemudian  diseduh dalam air masak sebanyak 110 ml, lalu diminum selagi hangat, sebanyak 1 kali sehari selama 4 hari.

Cara kedua, yaitu dengan merebus 8 lembar daun bungur segar kedalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas.  Setelah dingin disaring, kemudian diminum. Dosis 1 kali sehari 1 gelas pada waktu pagi hari.

Penulis:
Fitri, Asmaliyah dan Etik Erna Wati Hadi

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar