Berita ~ Berita LHK

Riezky Aprilia Janji Gaungkan Konsep Agrosilvofishery di Komisi IV DPR-RI

Senin, 1 Jun 2020 | 176

Riezky Aprilia  Janji Gaungkan Konsep Agrosilvofishery di Komisi IV DPR-RI

BP2LHK Palembang__“Terus terang, selama ini kami di Komisi IV belum pernah mendengar konsep agrosilvofishery untuk manajemen pengelolaan lahan gambut. Ini knowledge baru buat saya. Saya janji akan memperkenalkan konsep ini di Komisi IV DPR karena menurut saya konsep ini bagus dan solusi nyata untuk PR gambut di Sumsel. Nggak sia-sia saya kesini”, ucap Riezky Aprilia, anggota Komisi IV DPR RI setelah mendengar paparan mengenai manajemen pengelolaan lahan gambut dari peneliti Balai Litbang LHK Palembang (Jumat, 29/06/2020) di ruang rapat Tembesu.

Menurut Kiki, panggilan akrab Riezky Aprilia, selama ini belum ada program yang ampuh dan dapat diaplikasikan di lahan gambut Sumsel yang setiap tahunnya terbakar itu. Kiki juga mengatakan kalau percepatan pemulihan ekosistem gambut dapat dilaksanakan bila kesejahteraan masyarakat menjadi prioritasnya. “Kalau masyarakat di sekitar lahan gambut itu produktif, mereka tidak akan melakukan pembakaran di lahan-lahan gambut milik mereka, karena lahan itu sudah menjadi sumber mata pencarian yang bisa diandalkan.  Konsep agrosilvofishery ini tepat untuk diaplikasikan di Sumsel. Kalau berhasil, ini juga nantinya akan menjadi legacy buat Sumsel, karena tidak semua daerah bahkan negara punya gambut”, katanya.

Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Tabroni, mengatakan kalau kegiatan pengembangan ini merupakan hasil pemikiran dari bertahun-tahun penelitian yang telah dilakukan selama ini. “Riset kami sudah 20 tahun lebih di gambut, dan apa yang kami hasilkan di lapangan sudah diakui bahkan dijadikan role model oleh beberapa instansi. Pengakuan nasional dan internasional pun sudah kami kantongin. Banyak yang sudah berkunjung dan belajar pengelolaan gambut disini”, katanya.

Namun, Tabroni menyayangkan kurangnya dukungan dari pihak-pihak terkait, sehingga percepatan pemulihan ekosistem gambut di Sumsel belum dapat dilaksanakan secara maksimal. “Kita berharap ibu bisa menyakinkan pembangunan pusat gambut di Sumsel, karena disini kebakaran gambut sudah menjadi persoalan yang urgent. Kita akan turut membantu dan mendukung. Teknik nya sudah kita kuasai, tinggal men-scaling up-kan nya dan mengintegrasikannya dengan berbagai instansi agar program ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan”, ujar Tabroni.

Senada dengan yang diucapkan Tabroni, Bastoni peneliti Balai Litbang LHK Palembang juga mengingatkan bila tidak ada pengkawalan dan kerja sama dari pihak-pihak terkait, program sebagus apapun tidak akan bertahan lama. “Masyarakat akan tertarik dan meninggalkan pola budidaya lama mereka bila sudah melihat hasilnya di lapangan. Karena memang waktu kami memulai pilot project ini, dari awalnya banyak yang menyangsikan keberhasilan konsep agrosilvofishery ini.  Namun setelah berjalan 3 tahun, banyak instansi dan masyarakat disana yang mulai tertarik dengan konsep agrossilvoforestry ini”, ujar Bastoni.

Bastoni mengatakan keberhasilan program ini terletak pada penyesuaian kondisi biofisik lahan rawa gambut dengan fluktuasi genangan air musiman lahan gambut, sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatan ruang dan memaksimalkan kegiatan budidaya. Akibatnya pendapatan pendapatan masyarakat setempat dapat meningkat.

 “Konsep agrosilvofishery ini mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, jadi tidak ada yang namanya ego sektoral disini. Sinergi dengan instansi lain sangat diperlukan di program ini. Saat ini, kami sudah menggandeng Kementerian Kelautan dan Perikanan, Puslit Karet dan yang akan kerja sama lagi nanti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Hanya karena Covid ini dan refocussing anggaran terpaksa semua kegiatan kita hentikan dulu”, tutur Bastoni.

 Selain memberikan informasi mengenai manajemen pengelolaan lahan gambut, Balai Litbang LHK Palembang juga memperkenalkan Kiki dengan produk HHBK unggulan Sumsel lainnya, yaitu rotan jernang.

 Menurut peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Nanang Herdiana, antusiasme masyarakat dalam menanam rotan jernang sangat tinggi, karena resin yang dihasilkan rotan jernang laku keras dengan harga yang relatif tinggi di pasaran. Namun, antusiasme ini tidak sebanding dengan jumlah bibit yang ada di lapangan.  Selain itu, pihak-pihak yang terkait juga belum terinformasikan dengan baik, sehingga atensi yang diberikan pun dirasa kurang oleh masyarakat.

 Kiki yang mengaku baru pertama kali ini mendengar dan mengetahui keberadaan rotan jernang belum bisa berkomentar, dia hanya meminta untuk diberikan ringkasan singkat mengenai potensi rotan jernang di Sumsel untuk dipelajarinya.

 Diakhir pertemuan, Kiki yang bergabung di Komisi IV yang bertugas di bidang pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan serta kelautan ini, berharap bisa melakukan kunjungan lapang ke plot Pilot Project Coba Restorasi Gambut Terintegrasi yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir yang dikelola oleh Balai Litbang LHK Palembang nantinya. “Saya mohon dijadwalkan, setelah pandemi ini, saya akan mengajak Dirjen dari kementerian terkait untuk meninjau langsung apa yang Bapak, Ibu sampaikan kepada kami”, ucapnya. (FA).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar