Berita ~ Berita LHK

Plastik Boleh Dipakai untuk Pangan Tak Terkemas

Kamis, 16 Jan 2020 | 56

Plastik Boleh Dipakai untuk Pangan Tak Terkemas

Jakarta, Kompas_pemerintah Provinsi DKIJakarta tidak melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai untuk wadah bahan pangan yang belum terkemas. Penggunaan plastik tidak bisa sepenuhnya dilarang sebag belum ada penggantinya

Kepala Seksi Humas Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan mengatakan, tidak ada larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai digunakan untuk wadah bahan pangan yang belum terkemas. Hal tersebut diterangkan dalam Pasal 7,10 dan 13 Peraturan Gubernur DKI Nomor 142 Tahun 2019. “ Untuk sementara, kebijakan kamu untuk pembatasan kantong plastik sekali pakai. Kalau (palstik) pembungkus bahan pangan mentah atau makanan yang belum ada kemasannya boleh, “ katanya, Rabu (15/1/2020).

Dinas Lingkungan Hidup DKI mencatat, dari total 7.500 ton sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantar Gebang setiap hari, sebanyak 14 persen merupakan sampah plastik. Larangan penggunaan kantong plastik dalam rangka mengurangi jumlah sampah plastik.

Titin (51), pedagang daging Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengaku belum memiliki alternatif pembungkus bahan mentah yang basah seperti daging.”Enggak mungkin pakai kertas kan,” katanya.

Nilai Sampah Plastik

Bagi sejumlah orang, plastik yang dianggap tidak ramah lingkungan punya nilai ekonomi dan bisa didaur ulang menjadi barang berguna. Sayang, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah masih minim sehingga sebagian besar sampah plastik yang bisa didaur ulang malah berakhir di tempat pembuangan sampah.

Pendiri Koperasi Trashion, Herianti Porsi Simarmata, mengubah sampah plastik menjadi aksesoris seperti dompet koin, tas tempat sabun, tas jinjing, ransel, dan koper. “Produk dijual dari Rp.20.000an hingga Rp.70.000-an untuk koper. Rata-rata dalam sebulan 200 produk laris terjual. Produk-produk itu dijual melalui Koperasi Trashion.

Menurut Yanti, sampah plastik yang masih bisa digunakan untuk membuat kerajinan itu terutama kemasan plastik bekas produk isi ulang, seperti sabun, sampo,dan detergen cair. Sampah plastik kemasan itu diperoleh dari pemulung atau rumah tangga yang memilah sampahnya dengan benar.  Sampah –sampah tersebut dibeli seharga Rp.500-an-Rp.6000 per kilogram.

“karena kami mengolah sampah plastik, kami gerakkan pemulung dari lingkungan sekitar dan menyosialisasikannya kepada warga dan bank sampah supaya sampah kemasan plastik isi ulang dikumpulkan. Jenis plastik tadi tadinya enggak diminati pemulung karena enggak ada nilainya” tutur Yanti.

Survei Sosial Ekonomi Nasional 2017 oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan, 62,01 persen responden tidak memilah sampah berdasarkan jenisnya.

 

Sumber: harian Kompas, 16/01/2020, hal 18

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar